Pada penutupan Selasa, 23 Juni 2026, harga minyak Brent sebagai acuan harga internasional turun 82 sen ke level 77,08 Dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 65 sen menjadi 73,21 Dolar AS per barel.
Tekanan harga ini terjadi di tengah ketidakpastian situasi geopolitik di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump menyebut sekitar 19 juta barel minyak sempat melewati Selat Hormuz pada hari Senin, bahkan menyebutnya sebagai rekor.
Situasi semakin membingungkan setelah Iran sempat menyatakan Selat Hormuz ditutup pada akhir pekan. Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) menegaskan jalur tersebut tetap terbuka dan kapal masih bisa melintas seperti biasa.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan AS mengeluarkan izin khusus selama 60 hari yang memungkinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran, termasuk pembayaran dalam dolar AS. Izin ini akan berakhir pada 21 Agustus. Kebijakan ini memicu kekhawatiran bahwa pendapatan minyak bisa digunakan Iran untuk memperkuat militernya, meskipun pemerintah AS menyatakan dana tersebut seharusnya dipakai untuk kebutuhan rakyat.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran yang berlangsung di Swiss. Sentimen ini ikut mendorong optimisme pasar bahwa ketegangan bisa mereda.
Sejumlah analis menilai pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pasar mulai percaya bahwa konflik berpotensi mereda. Artinya, tekanan inflasi dari sektor energi juga bisa ikut berkurang ke depan.
Meski begitu, Oman dan Iran tetap menegaskan dalam pernyataan bersama bahwa mereka memiliki hak kedaulatan atas perairan di Selat Hormuz, yang menunjukkan ketegangan belum sepenuhnya hilang dari kawasan tersebut.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: