Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, inflasi tahunan tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.
Di sisi lain, secara bulanan (mtm) Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen pada Juli 2026. Sementara secara tahun kalender (ytd) inflasi tercatat sebesar 1,65 persen.
Ateng menjelaskan, tekanan inflasi tahunan paling besar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 2,97 persen dengan kontribusi sebesar 0,87 persen terhadap inflasi nasional.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan sigaret kretek tangan,” kata Ateng dalam konferensi pers rilis data BPS pada Senin 3 Agustus 2026.
Selain itu, kelompok transportasi juga menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan sebesar 5,12 persen dan memberikan andil sebesar 0,62 persen.
BPS mencatat, inflasi pada kelompok transportasi dipicu oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas atau oli mesin, serta sepeda motor.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menjadi kontributor inflasi setelah mencatat kenaikan sebesar 9,04 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,61 persen.
"Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditas emas dan perhiasan,” tandas Ateng.
BERITA TERKAIT: