Sejak beredar laporan bahwa pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran di Swiss mendadak dibatalkan, harga minyak dunia langsung menguat. Hal ini dipicu kekhawatiran bahwa upaya menciptakan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah masih menghadapi banyak hambatan.
Investor pun kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak global, terutama di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, waktu AS, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, ditutup naik 0,9 persen ke level 80,57 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), acuan utama Amerika Serikat, sempat diperdagangkan 1,23 persen lebih tinggi di 77,54 Dolar AS per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat berbalik melemah setelah Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyepakati gencatan senjata. Namun, pembatalan perundingan antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Pasar menilai ketidakpastian politik di Timur Tengah masih tinggi. Hal ini membuat risiko terhadap pasokan energi global tetap menjadi perhatian utama.
Perhatian investor juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara produsen utama dunia melewati jalur tersebut.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) kembali menolak proyeksi yang memperkirakan permintaan minyak dunia akan segera mencapai puncaknya dalam waktu dekat. OPEC tetap optimistis konsumsi minyak global akan terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang.
BERITA TERKAIT: