Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 0,89 persen. Penguatan ditopang oleh lonjakan saham perusahaan chip SK Hynix yang melesat 3,45 persen dan mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, saham Samsung Electronics turut naik 1,23 persen. Di sisi lain, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru melemah 0,5 persen.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 1,35 persen dan untuk pertama kalinya menembus level 71.000. Indeks Topix juga naik 1,27 persen, menandakan sentimen positif yang masih kuat di pasar saham Jepang.
Sementara indeks Australia, S&P/ASX 200, bergerak datar. Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng berada di level 24.200, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 24.312,16, yang mengindikasikan pembukaan perdagangan berpotensi melemah.
Pergerakan pasar Asia terjadi setelah Federal Reserve menggelar pertemuan pertamanya di bawah kepemimpinan Ketua baru, Kevin Warsh. Dalam pertemuan tersebut, bank sentral Amerika Serikat memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75 persen.
Meski suku bunga tidak berubah, proyeksi terbaru The Fed menunjukkan sebagian pejabat kini memperkirakan suku bunga akan kembali naik pada 2026. Proyeksi median suku bunga akhir tahun dinaikkan menjadi 3,8 persen dari sebelumnya 3,4 persen pada Maret, yang mengindikasikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun depan.
Ketidakpastian juga bertambah karena Kevin Warsh tidak menyampaikan proyeksi suku bunga pribadinya, sehingga memicu beragam spekulasi di pasar.
Pelaku pasar kini akan terus mencermati arah kebijakan The Fed karena keputusan suku bunga AS berpotensi memengaruhi arus modal dan pergerakan pasar saham global, termasuk di kawasan Asia.
BERITA TERKAIT: