BPS Prediksi Implementasi B50 Pengaruhi Volume Ekspor CPO di Semester II 2026

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Senin, 03 Agustus 2026, 14:31 WIB
BPS Prediksi Implementasi B50 Pengaruhi Volume Ekspor CPO di Semester II 2026
Petani sawit. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Kecil Besar
rmol news logo Badan Pusat Statistik (BPS) menilai implementasi mandatori biodiesel B50 berpotensi memengaruhi volume ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) Indonesia, khususnya pada semester II 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menilai peningkatan kebutuhan bahan baku untuk program B50 dapat memengaruhi pasokan yang tersedia untuk pasar ekspor.

“BPS tidak membuat perkiraan (ekspor CPO), namun untuk yang penerapan B50 yang akan dimulai kita tahu bersama pada bulan Juli 2026 ini cenderung berpotensi akan mempengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia, khususnya nanti pada semester 2 di tahun 2026,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin 3 Agustus 2026.

Menurutnya, saat ini ekspor CPO dan fraksinya (HS 1511) pada semester I 2026 masih mencatat pertumbuhan sebesar 7,32 persen (cumulative-to-cumulative/ctc). 

Namun, laju tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 24,8 persen. Sehingga, pertumbuhan ekspor CPO pada paruh pertama tahun ini, kata Ateng masih berada dalam tren melambat dibandingkan semester I 2025.

“Jadi kalau tadinya tumbuh cepat, sekarang tumbuh di bawahnya. Sama-sama tumbuh tetapi tumbuhnya mengalami perlambatan,” imbuhnya.

Meski tidak menyusun estimasi ekspor ke depan, Ateng menyebut terdapat sejumlah indikator yang perlu diperhatikan untuk melihat arah kinerja ekspor CPO. Di antaranya produksi dan persediaan minyak sawit domestik, peningkatan permintaan dalam negeri, serta perkembangan harga minyak sawit di pasar domestik maupun internasional.

“Itu beberapa variabel yang perlu untuk dicermati dalam rangka melakukan perkiraan estimasi (kinerja ekspor CPO), dan BPS tidak melakukan estimasi ataupun perkiraan. Jadi tunggu saja nanti kita rilis riil kondisinya,” tegas Ateng.

Selain implementasi B50, BPS juga menyoroti dampak fenomena El Nino terhadap industri sawit nasional. Menurut Ateng, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas tandan buah segar (TBS), menurunkan volume produksi, mendorong kenaikan harga CPO, hingga memengaruhi kualitas agronomis tanaman.

“Pada saat kita mencermati TBS tolong lihat termasuk produktivitasnya untuk TBS nya, kemudian juga produksi minyak sawit tentunya, yang berikutnya bagaimana serapannya untuk domestik terutama untuk yang biodeselnya, kemudian bagaimana untuk stok atau persediaan akhirnya serta harga minyak sawit ini baik di domestik ataupun yang di internasional, itu beberapa yang perlu dicermati,” tandasnya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA