Kenaikan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran pasar dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam inflasi.
Meskipun emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai, kebijakan suku bunga tinggi tetap menjadi penekan utama bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil ini.
Dikutip dari Reuters, emas spot merosot 1,2 persen menjadi 4.678,49 Dolar AS per ons. Sementara, harga emas berjangka Amerika Serikat ditutup melemah 0,9 persen ke posisi 4.686,70 Dolar AS per ons.
tekanan terhadap logam mulia juga diperparah oleh data inflasi konsumen Amerika Serikat bulan April yang mencatatkan lonjakan tahunan terbesar dalam tiga tahun terakhir.
Di pasar logam lainnya, perak ikut menyusut 1,1 persen ke level 85,12 Dolar AS sementara platinum dan paladium masing-masing anjlok 1,5 persen dan 2 persen.
Meski saat ini harga sedang melandai, sejumlah analis tetap optimis terhadap fundamental emas jangka panjang dan memproyeksikan adanya peluang pemulihan untuk mencetak rekor tertinggi baru pada tahun 2026.
BERITA TERKAIT: