Menurutnya, fokus utama diarahkan pada penguatan daya beli masyarakat, dorongan belanja, serta perbaikan iklim investasi agar dunia usaha makin efisien dan kompetitif.
Salah satu langkah yang disorot adalah pengetatan pengawasan terhadap barang ilegal yang kembali marak di pasar domestik. Pemerintah, kata Purbaya, akan memperkuat penjagaan agar produk ilegal tidak merusak stabilitas pasar dalam negeri.
"Saya kan galakaan lagi penjagaan pasar domestik dari barang-barang ilegal yang katanya agak ramai lagi sekarang. Walaupun BC sudah bekerja lebih keras dari sebelumnya. Itu utamanya," kata Purbaya kepada media di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menegaskan, penguatan pasar domestik menjadi kunci penting di tengah dinamika global. Upaya ini dilakukan seiring peningkatan kinerja aparat untuk memastikan distribusi barang tetap sehat dan kompetitif.
Meski demikian, Purbaya mengakui sebagian pelaku usaha masih merasakan tekanan. Namun, menurutnya kondisi tersebut lebih banyak dipicu faktor psikologis ketimbang fundamental ekonomi.
"Karena ada kalau saya juga agak, saya monitor terus keadaannya ya, kelihatannya walaupun bagus, orang masih agak takut. Karena banyak yang nakut-nakutin, kayak Anda tuh nakut-nakutin, katanya mau 1998, maunya ini itu, padahal kan sudah kita buktikan kan, kita tumbuhnya kencang dan ini akan kita pertahankan," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sektor swasta memegang peran dominan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah pun berkomitmen menjaga stabilitas serta memastikan dukungan terhadap dunia usaha tetap terjaga.
"Itu juga kita jaga, sebetulnya kita jaga, makanya kita bisa tumbuh seperti ini. Jadi, jadi harusnya, pebisnis gak usah takut, kita akan membaik terus ke depan. Perbankan akan kita pastikan uangnya cukup di sistem perekonomian sehingga dunia usaha bisa dapat akses ke pembelian," pungkasnya.
Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 tercatat tumbuh 5,61 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Covid-19.
BERITA TERKAIT: