Penguatan ini didorong oleh aksi beli di harga rendah atau
bargain hunting serta pelemahan harga minyak yang memberikan ruang bagi logam mulia untuk bangkit.
Dikutip dari Reuters, emas spot ditutup naik 0,8 persen menjadi 4.557,56 Dolar AS per ons, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat mengikuti tren serupa dengan kenaikan ke posisi 4.568,50 Dolar AS per ons.
Faktor geopolitik masih menjadi penggerak utama pasar seiring dengan laporan serangan rudal dan drone di Uni Emirat Arab serta kondisi gencatan senjata yang rapuh di Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital ini telah mengalami gangguan sejak akhir Februari, yang berdampak langsung pada pasokan global komoditas penting seperti minyak dan pupuk.
Meski harga minyak mengalami penurunan terbatas, posisinya yang tetap tinggi terus memicu kekhawatiran inflasi global yang pada gilirannya memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, penguatan emas tetap dibatasi oleh dinamika kebijakan suku bunga bank sentral. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, daya tarik emas cenderung bersaing ketat dengan aset lain saat ekspektasi suku bunga tinggi tetap bertahan.
Fokus investor kini mulai beralih pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pekan ini.
Laporan tersebut akan menjadi indikator krusial bagi pelaku pasar untuk mengukur ketangguhan ekonomi AS dan menentukan apakah bank sentral akan mempertahankan kebijakan ketat atau mulai membuka peluang penurunan suku bunga.
Di tengah ketidakpastian tersebut, harga logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan paladium juga terpantau bergerak menguat secara serentak.
BERITA TERKAIT: