Penguatan greenback ini dipicu oleh keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga serta meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu aksi pemburuan aset aman (safe haven).
Internal The Fed sendiri menunjukkan perpecahan terdalam sejak 1992 dengan hasil voting 8-4. Meski Jerome Powell menegaskan tidak ada rencana kenaikan bunga dalam waktu dekat menjelang akhir masa jabatannya pada 15 Mei, pasar menangkap sinyal kekhawatiran inflasi yang kuat dari sejumlah pejabat.
Indeks Dolar (DXY) pun melompat 0,35 persen ke level 98,938, sementara Euro dan Poundsterling masing-masing terkoreksi lebih dari 0,3 persen.
Direktur Monex USA, Juan Perez, menilai absennya konsensus di bank sentral global justru menjadi bahan bakar bagi kekuatan Dolar. Terlebih lagi, calon pengganti Powell, Kevin Warsh, diprediksi tidak akan gegabah melakukan pelonggaran kebijakan di tengah tekanan inflasi yang agresif.
Yen Jepang menjadi sorotan setelah terperosok melewati level 160 per Dolar AS, level terendah sejak awal 1990-an. Analis Goldman Sachs, Karen Fishman, menyebut pelemahan ini memicu kekhawatiran akan adanya intervensi mendadak dari pemerintah Jepang.
Harga minyak Brent melonjak ke 118,03 Dolar AS per barel, mencatat kenaikan delapan sesi berturut-turut. Lonjakan ini didorong oleh kekhawatiran blokade pelabuhan Iran yang memaksa Gedung Putih menyiapkan langkah mitigasi energi.
Axel Merk dari Merk Investments menjelaskan bahwa meroketnya harga minyak memicu kenaikan suku bunga riil AS. Hal ini membuat aset berdenominasi Dolar jauh lebih atraktif dibandingkan mata uang negara lain yang terpukul oleh tingginya biaya energi.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan absennya arah pelonggaran moneter dari bank sentral utama dunia kini menempatkan Dolar AS dalam posisi dominan di pasar global.
BERITA TERKAIT: