Lonjakan ini dipicu oleh pelemahan Dolar AS serta anjloknya harga minyak mentah setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Langkah diplomasi ini berhasil menenangkan pasar global dari kecemasan terhadap inflasi.
Berdasarkan laporan Reuters, pada penutupan perdagangan Rabu 8 April 2026 atau Kamis dini hari WIB, emas spot menguat 0,8 persen ke level 4.740,42 Dolar AS per ons.
Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga lebih dari 3 persen dan menyentuh level tertinggi sejak 19 Maret. Sementara, emas berjangka AS ditutup melesat 2 persen di posisi 4.777,20 Dolar AS per ons.
Analis dari Marex, Edward Meir, memberikan pandangannya terkait situasi ini. Menurutnya, jeda konflik tersebut memberikan efek psikologis yang menenangkan bagi pelaku pasar.
"Gencatan senjata tersebut memberikan efek menenangkan bagi pasar sekaligus meredakan tekanan ekonomi. Kondisi ini berpotensi menurunkan tekanan inflasi dan membuka peluang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga, yang menjadi sentimen positif bagi emas," ujar Meir.
Meski demikian, Meir memberikan catatan bahwa stabilitas ini bersifat sementara. Ia mengingatkan bahwa kondisi di lapangan masih sangat rawan. Karena banyak detail yang belum disepakati sepenuhnya, gencatan senjata tersebut berisiko goyah kapan saja, sehingga reli pasar saat ini mungkin hanya bersifat jangka pendek.
Kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran ini berhasil dicapai melalui mediasi Pakistan. Walaupun AS dan Israel menghentikan serangan ke Iran, tensi di kawasan tetap tinggi mengingat Israel justru mengintensifkan operasi militernya di Lebanon.
Dampak langsung dari kabar ini terasa di sektor energi dan mata uang. Harga minyak jatuh hingga di bawah 100 Dolar AS per barel, mengurangi kekhawatiran atas tingginya biaya energi global.
Dolar AS mengalami koreksi terhadap mata uang utama, membuat emas (yang dipatok dalam Dolar) menjadi lebih terjangkau bagi para pemegang mata uang lain.
Sebagai konteks, harga emas sempat tertekan sekitar 10 persen sejak pecahnya konflik AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Saat itu, lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang memaksa pasar menghapus ekspektasi penurunan suku bunga.
Dalam rezim suku bunga tinggi, daya tarik emas biasanya meredup karena tidak menghasilkan imbal hasil (bunga).
Tren positif tidak hanya dialami emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mencatatkan penguatan tajam. Perak melambung 3,3 persen ke 75,35 Dolar AS per ons. Platinum melonjak 5,3 persen ke 2.060,45 Dolar AS per ons.
Paladium melambung 7,6 persen ke 1.581,33 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: