Dikutip dari Reuters, Jumat 27 Maret 2026, pada penutupan perdagangan Kamis, minyak mentah Brent naik sekitar 5,7 persen ke level 108,01 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika menguat 4,6 persen menjadi 94,48 Dolar AS per barel.
Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian arah konflik. Iran menyatakan masih meninjau proposal AS terkait upaya mengakhiri perang, namun menilai usulan tersebut tidak adil dan belum membuka ruang negosiasi nyata. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran sempat menawarkan izin bagi 10 kapal tanker minyak untuk melintasi Selat Hormuz sebagai sinyal niat baik.
Situasi yang simpang siur ini membuat pelaku pasar cenderung mencari aset aman. “Ada kebingungan dan frustrasi murni mengenai kebenaran cerita yang muncul dari Amerika Serikat dan Iran. Investor kembali beralih ke aset yang lebih aman untuk melindungi modal,” ujar Timothy Snyder, kepala ekonom di Matador Economics.
Ketegangan juga meningkat di lapangan. AS dilaporkan akan mengirim tambahan pasukan ke kawasan Teluk, sementara kelompok Houthi di Yaman menyatakan siap kembali menyerang jalur pelayaran di Laut Merah. Kondisi ini memperbesar risiko gangguan distribusi energi global.
Dampak perang terhadap pasokan minyak pun semakin nyata. Pengiriman melalui Selat Hormuz hampir terhenti. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan terbesar yang pernah terjadi.
Tekanan pasokan tidak hanya datang dari Timur Tengah. Serangan drone Ukraina dan penyitaan kapal tanker telah menghentikan sekitar 40 persen kapasitas ekspor minyak Rusia. Di saat yang sama, produksi minyak Irak juga menurun karena kapasitas penyimpanan yang sudah mendekati batas kritis.
Meski demikian, ada sedikit tanda pelonggaran. Beberapa kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz setelah koordinasi diplomatik dengan Iran. Namun secara keseluruhan, eskalasi militer, pembatasan jalur distribusi, dan ketidakpastian negosiasi masih menjadi faktor utama yang menahan pasar energi dalam tekanan tinggi.
BERITA TERKAIT: