Penurunan ini menyebabkan nilai rugi per saham anjlok ke angka Rp20,20.
Faktor utama yang menekan laba adalah lonjakan penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 34,9 persen menjadi Rp553,6 miliar, serta tingginya beban operasional yang mencapai Rp638,80 miliar.
Meskipun demikian, kinerja intermediasi bank sebenarnya masih tumbuh positif dengan pendapatan bunga neto yang naik menjadi Rp696,34 miliar, didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga sebesar 13,87 persen year-on-year.
Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia, Senin 16 Maret 2026, pada sisi neraca, total aset bank tetap stabil di level Rp13,08 triliun meski ekuitas terkikis 12,8 persen menjadi Rp3,01 triliun akibat kerugian tahun berjalan.
Liabilitas perusahaan tercatat naik tipis 4,1 persen menjadi Rp10,07 triliun. Di sisi lain, posisi kas akhir tahun menyusut 29,1 persen ke angka Rp1,19 triliun karena terserap oleh aktivitas investasi dan pendanaan, walaupun arus kas operasi tetap terjaga positif di angka Rp391 miliar.
Secara keseluruhan, tantangan utama AGRO di tahun 2025 terletak pada manajemen risiko kredit dan efisiensi biaya guna mengimbangi pertumbuhan pendapatan bunga yang cukup menjanjikan.
BERITA TERKAIT: