Futures Dow Jones turun 1,1 persen, S&P 500 melemah 1 persen, dan Nasdaq 100 terkoreksi 1 persen. Tekanan ini memperpanjang pelemahan pasar yang sudah terjadi pada akhir pekan lalu akibat kekhawatiran inflasi, sentimen sektor kecerdasan buatan (AI), dan memanasnya konflik militer.
AS dan Israel dilaporkan terus menggempur target-target di Iran. Sebagai respons, Teheran meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah sekutu AS di kawasan Timur Tengah.
Serangan ini disebut sebagai aksi balas dendam atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Laporan menyebutkan, operasi militer gabungan AS–Israel juga menewaskan sebagian besar jajaran pimpinan senior Iran.
Televisi pemerintah Iran mengumumkan bahwa untuk sementara negara akan dipimpin oleh dewan beranggotakan tiga orang hingga proses politik lebih lanjut ditentukan.
Di tengah situasi panas tersebut, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa kepemimpinan baru Iran ingin membuka jalur komunikasi dengan Washington.
“Mereka ingin berbicara, dan saya sudah setuju untuk berbicara. Saya akan berbicara dengan mereka. Seharusnya mereka melakukannya lebih awal,” ujar Trump kepada
The Atlantic.
Namun di sisi lain, Trump juga menyampaikan bahwa ia memiliki beberapa “opsi keluar” untuk mengakhiri Operasi “Epic Fury”. Ia menyebut bisa memperpanjang operasi dan mengambil kendali penuh, atau menghentikannya dalam dua hingga tiga hari dengan peringatan keras kepada Iran.
Eskalasi konflik langsung memukul pasar energi global. Harga minyak mentah AS, yang sebelumnya sudah berada di level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, melonjak lebih dari 8 persen hingga mendekati 73 Dolar AS per barel.
Lonjakan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan, terutama setelah kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Di tengah kekhawatiran itu, OPEC+ pada Minggu menyepakati untuk kembali meningkatkan produksi minyak mulai April. Namun pelaku pasar menilai tambahan pasokan tersebut belum tentu mampu meredam tekanan harga jika konflik terus membesar.
Maskapai penerbangan internasional pun masih menangguhkan penerbangan ke kawasan Timur Tengah demi alasan keamanan.
Serangan Iran ke sejumlah negara Teluk justru memperkeras sikap negara-negara tersebut terhadap Teheran. Beberapa negara Eropa juga memberi sinyal akan terlibat lebih aktif dalam memperkuat pertahanan sekutu mereka di kawasan.
Kondisi ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas dan memperpanjang ketidakpastian global.
Investor Waspada, Volatilitas Diperkirakan Tinggi
Pasar saham AS sebelumnya sudah tertekan akibat laporan inflasi produsen (PPI) yang tinggi dan kekhawatiran di sektor teknologi. Kini, memanasnya konflik geopolitik membuat tekanan di pasar semakin besar.
Meski sejumlah ETF berbobot merata masih bertahan di level teknikal penting, indeks utama telah ditutup di bawah level support kunci pada Jumat lalu.
Analis mengingatkan bahwa pergerakan futures pada malam hari belum tentu sepenuhnya mencerminkan arah perdagangan saat bursa reguler dibuka. Namun dengan konflik yang terus berkembang dan jalur diplomasi yang belum jelas, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan.
BERITA TERKAIT: