Dikutip dari Reuters, Jumat 20 Februari 2026, pada penutupan perdagangan Kamis, indeks Dow Jones Industrial Average turun 267,5 poin atau 0,54 persen ke level 49.395,16. Indeks S&P 500 terkoreksi 19,42 poin atau 0,28 persen menjadi 6.861,89. Sementara indeks Nasdaq Composite melemah 70,91 poin atau 0,31 persen ke 22.682,73.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, delapan sektor berakhir di zona merah. Sektor keuangan dan barang konsumsi non-esensial memimpin penurunan masing-masing sebesar 0,86 persen dan 0,53 persen. Sebaliknya, sektor utilitas dan industri mencatatkan kenaikan tertinggi, masing-masing naik 1,13 persen dan 0,77 persen.
Sentimen pasar turut tertekan oleh perkembangan geopolitik. Harga minyak mentah kembali naik di tengah kebuntuan soal program nuklir Iran. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan Iran memiliki waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan baru. Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan, maka “hal-hal yang sangat buruk” bisa terjadi.
Dari sisi korporasi, saham Walmart turun 1,38 persen meski melaporkan penjualan fiskal yang kuat sebesar 713,2 miliar dolar AS. Angka ini sedikit di bawah pendapatan tahunan Amazon yang mencapai 716,9 miliar dolar AS, menandai pertama kalinya Amazon melampaui Walmart sebagai perusahaan dengan pendapatan tahunan terbesar.
Saham Carvana anjlok hampir 8 persen setelah gagal memenuhi ekspektasi profitabilitas dalam laporan kuartalan terbarunya. Sebaliknya, saham DoorDash naik 1,62 persen setelah perusahaan memperkirakan belanja pelanggan akan meningkat pada kuartal ini.
Saham-saham teknologi raksasa bergerak beragam di tengah laporan bahwa OpenAI hampir menuntaskan pendanaan baru senilai 100 miliar Dolar AS. Saham Apple turun hampir 1,5 persen, sementara saham Nvidia, Alphabet, Microsoft, Meta, Tesla, dan Amazon bergerak terbatas.
Dari sisi ekonomi, defisit perdagangan barang AS pada 2025 tercatat sebesar 1,24 triliun Dolar AS, naik 2,1 persen dibanding tahun sebelumnya, menurut Biro Analisis Ekonomi AS. Sementara itu, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 14 Februari turun menjadi 206.000, berkurang 23.000 dari pekan sebelumnya.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan situasi Timur Tengah dan menunggu data inflasi lanjutan, termasuk indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Desember yang akan dirilis Jumat, waktu Amerika.
BERITA TERKAIT: