Deputi III Badan Komunikasi Pemerintah RI, Aderia, menjelaskan dalam program Closing Bell
CNBC, bahwa benang merah antara Imlek dan Ramadan adalah tradisi berkumpul bersama keluarga dan silaturahmi. Tradisi ini secara alami memicu peningkatan belanja masyarakat.
“Budaya masyarakat saat hari raya dan Ramadan biasanya banyak jajan. Pemerintah berharap festival ini bisa meningkatkan aktivitas ekonomi, terutama bagi UMKM,” ujar Aderia, dikutip redaksi di Jakarta, Jumat 13 Februari 2026.
Sebagai salah satu langkah nyata, pemerintah menggelar Festival Imlek di Lapangan Banteng, Jakarta, yang menghadirkan sekitar 200 stan UMKM.
Bazar makanan yang dibuka mulai 22 Februari juga bertepatan dengan Ramadan dan terbuka untuk umum. Semua makanan dijamin halal, sehingga pengunjung yang berpuasa bisa sekaligus membeli takjil.
“Kehadiran sekitar 200 stan ini tentu menciptakan banyak aktivitas ekonomi, dari penjualan makanan hingga kerajinan lokal,” jelas Aderia.
Festival semacam ini diharapkan menjadi titik temu antara tradisi dan ekonomi, dengan UMKM lokal sebagai penerima manfaat langsung dari lonjakan konsumsi.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Jakarta. Daerah-daerah lain juga mulai meramaikan Imlek dan Ramadan, termasuk kota-kota yang sebelumnya tidak terkenal dengan perayaan Imlek. Singkawang, misalnya, sudah dikenal luas karena Cap Go Meh, namun sekarang kota-kota lain juga mengadakan perayaan serupa.
“Ini bisa menjadi daya tarik wisata domestik maupun internasional, untuk melihat kemeriahan Imlek dan Ramadan di berbagai daerah Indonesia,” tambah Aderia.
Dengan perayaan yang berdekatan dan menyatukan tradisi budaya serta agama, pemerintah optimis kuartal pertama 2026 akan menjadi periode yang kuat untuk konsumsi masyarakat, pertumbuhan UMKM, dan pengembangan pariwisata nasional.
BERITA TERKAIT: