Salah satu masalah klasik di ekosistem ride-hailing adalah besarnya potongan komisi yang sering kali mencekik pendapatan driver. Menanggapi hal ini, Indah Arista selaku Direktur Josal, menjelaskan bahwa fokus utama mereka adalah menciptakan skema kerja yang lebih adil.
Dengan potongan komisi yang lebih rendah dibandingkan "pemain besar" di industri ini, diharapkan pendapatan bersih yang dibawa pulang oleh para mitra ojek online bisa meningkat secara signifikan.
“Kesejahteraan mitra adalah prioritas utama. Josal dirancang agar pendapatan mitra meningkat nyata lewat potongan komisi yang lebih rendah,” jelas Indah, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat 9 Januari 2026.
Tantangan terbesar bagi setiap aplikator adalah menjaga agar tarif tidak memberatkan penumpang namun tetap manusiawi bagi pengemudi. Josal mencoba mengambil jalan tengah dengan menyusun skema tarif yang kompetitif. Tujuannya sederhana: pengguna senang karena terjangkau, dan pengemudi tetap mendapatkan upah yang layak.
Dari sisi operasional, Hendrik Taufik, Staf Operasional Josal, menyoroti kebijakan biaya sewa aplikasi sebesar 10 persen.
Angka ini diklaim sebagai salah satu yang terendah di Indonesia saat ini, sekaligus merupakan bentuk kepatuhan terhadap regulasi pemerintah.
Hal yang membuat Josal terasa berbeda adalah pendekatannya yang tidak melulu soal bisnis. Ada sisi kemanusiaan yang disisipkan dalam operasional mereka, seperti program makan siang gratis yang rutin bagi para mitra pengemudi, serta layanan ambulans gratis bagi masyarakat umum di wilayah Jabodetabek.
Program-program ini menunjukkan bahwa Josal ingin hadir sebagai bagian dari solusi sosial di tengah masyarakat, bukan sekadar platform digital pencari keuntungan.
Meski mengusung konsep sosial, aspek keamanan tetap menjadi standar utama. Proses verifikasi mitra dilakukan secara ketat untuk menjamin ketenangan pengguna. Respons cepat terhadap keluhan pelanggan menjadi kunci bagi Josal untuk membangun kepercayaan publik di tengah persaingan yang ketat.
Pada akhirnya, kehadiran inovasi lokal seperti Josal memberikan harapan baru. Bahwa kemajuan teknologi transportasi digital di Indonesia sudah seharusnya berjalan beriringan dengan keadilan ekonomi yang lebih manusiawi bagi mereka yang bekerja di jalanan.
BERITA TERKAIT: