Laporan dari jalannya sesi perdagangan menyebutkan, sikap pesimis pelaku pasar yang semakin tak terbendung menyusul sentimen dari pasar global dan regional yang memburuk. Sesi perdagangan di Wall Street sebelumnya dilaporkan jatuh dalam kepanikan jual dengan dipicu oleh kebijakan tarif masuk pemerintahan Presiden Donald Trump.
Laporan lebih jauh menyebutkan, Presiden Trump yang telah memastikan bahwa pengenaan tarif masuk sebesar 25 persen atas produk asal Kanada dan Meksiko yang akan berlaku mulai 4 Maret pekan depan usai masa penundaan selama sebulan. Trump bahkan dalam kesempatan yang sama juga menekankan bahwa penaikkan tarif masuk tambahan sebesar 10 persen atas produk asal China.
Laporan terkait sebelumnya juga menyebutkan Trump yang segera mengenakan tarif masuk atas produk asal Uni Eropa sebesar 25 persen. Rangkaian kebijakan Trump yang terkesan tanpa ampun ini dengan segera memantik sikap pesimis pelaku pasar hingga menghantarkan indeks Wall Street jatuh ke jurang merah.
Situasi buram tersebut kemudian menjarah di sesi perdagangan pemungkasan pekan di Asia, Jumat 28 Februari 2025. Pantauan menunjukkan, seluruh Indeks di Asia yang rontok dalam rentang curam dalam menutup pekan ini. Kinerja merah terlihat konsisten di sepanjang sesi dan bahkan terkesan kian kukuh menjelang sesi penutupan.
Indeks Nikkei (Jepang) berakhir ambruk 2,88 persen di 37.155,5 sementara indeks ASX200 (Australia) terpangkas curam 1,16 persen di 8.172,4 dan indeks KOSPI (Korea Selatan) menutup sesi dengan tenggelam 3,39 persen di 2.532,78.
Kemerosotan curam di Asia kemudian semakin mengukuhkan pesimisme di bursa saham Indonesia, dengan sikap pelaku pasar yang semakin deras menggelar tekanan jual. Tiadanya sentimen domestik yang tersedia kian mengukuhkan pesimisme hingga menghantarkan IHSG terjungkal semakin dalam. Setelah konsisten menjejak kemerosotan curam di sepanjang sesi, IHSG akhirnya menutup sesi dengan tumbang 3,31 persen di 6.270,59.
Tinjauan teknikal terkini akibat keruntuhan curam dalam tiga hari sesi perdagangan secara beruntun memperlihatkan, tren jual IHSG yang kini semakin solid dan oleh karenanya menghadirkan peluang besar untuk melanjutkan gerak turun lebih jauh hingga beberapa pekan sesi perdagangan ke depan.
Sementara pantauan dari jalannya sesi perdagangan memperlihatkan, kinerja merah IHSG yang sangat tercermin pada keruntuhan tajam seluruh saham unggulan. Hampir seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan terjungkal dalam penurunan brutal, seperti: BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, TLKM, ASII, UNVR, UNTR, INDF, PTBA, ITMG, ISAT, JPFA, PGAS, INTP, BBTN, CPIN dan SMGR.
Saham unggulan tercatat hanya menyisakan ICBP yang mampu bertahan positif dengan menutup sesi di Rp10.450 atau naik moderat 0,48 persen.
Pantauan juga menunjukkan pelaku pasar yang justru mendapatkan tambahan sentimen domestik yang kurang bersahabat dari kabar pemutusan hubungan kerja atau PHK yang dilakukan perusahaan raksasa tekstil Asia tenggara, Sritex. Langkah PHK tersebut seakan menambah pukulan bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya bertekad mencegahnya di tengah kebangkrutan yang mendera.
BERITA TERKAIT: