Ramalan tersebut bukan tanpa sebab, lantaran kinerja perekonomian Indonesia sangat impresif.
Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal ketiga berhasil menembus angka 5,72 persen jika dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. Sementara inflasi turun ke titik 5,42 persen dari tahun-ke-tahun pada November 2022. Cadangan devisa juga positif, dan neraca perdagangan mengalami surplus selama 30 bulan berturut-turut.
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi berpendapat, Indonesia masih akan merasakan
windfall atau diuntungkan dari komoditas energi pada tahun depan.
“Saya kira perang Rusia-Ukraina belum akan berakhir. Negara Eropa tidak bisa menggunakan gas dari Rusia tetapi akan kembali menggunakan batubara. Nah ini jadi pasar baru bagi Indonesia," ujarnya pada Rabu (14/12).
Di samping itu, perkembangan nikel juga dinilai sudah berjalan dengan baik. Nilai ekspor nikel yang memiliki nilai tambah tercatat lebih tinggi dibanding biji nikel.
"Ini juga akan menjadi pemasukan devisa yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi," lanjutnya.
Ia juga menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap ditopang oleh konsumsi dalam negeri yang kuat.
Dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada 2023, maka akan memicu daya beli masyarakat. Naiknya daya beli dapat menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi.
Terkait peluang ekspor, Fahmy mengatakan masih terbuka peluang bagi Indonesia untuk menjajaki ekspor ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Eropa, hingga Jepang karena mereka belum jatuh ke jurang krisis. Kendati begitu ia mengakui kemungkinan terjadinya perlambatan.
BERITA TERKAIT: