Selamat Idul Fitri Mudik

Ekonomi Masih Kuat, Indonesia Diprediksi Mampu Lalui Ancaman Krisis Global 2023

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/raiza-andini-1'>RAIZA ANDINI</a>
LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Rabu, 14 Desember 2022, 12:28 WIB
Ekonomi Masih Kuat, Indonesia Diprediksi Mampu Lalui Ancaman Krisis Global 2023
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi/Net
rmol news logo Indonesia diramalkan akan terbebas dari krisis ekonomi yang menggentayangi seperti "awan hitam" pada tahun 2023 jika mampu menangani tantangan ekonomi global dengan baik.

Ramalan tersebut bukan tanpa sebab, lantaran kinerja perekonomian Indonesia sangat impresif.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal ketiga berhasil menembus angka 5,72 persen jika dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama. Sementara inflasi turun ke titik 5,42 persen dari tahun-ke-tahun pada November 2022. Cadangan devisa juga positif, dan neraca perdagangan mengalami surplus selama 30 bulan berturut-turut.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi berpendapat, Indonesia masih akan merasakan windfall atau diuntungkan dari komoditas energi pada tahun depan.

“Saya kira perang Rusia-Ukraina belum akan berakhir. Negara Eropa tidak bisa menggunakan gas dari Rusia tetapi akan kembali menggunakan batubara. Nah ini jadi pasar baru bagi Indonesia," ujarnya pada Rabu (14/12).

Di samping itu, perkembangan nikel juga dinilai sudah berjalan dengan baik. Nilai ekspor nikel yang memiliki nilai tambah tercatat lebih tinggi dibanding biji nikel.

"Ini juga akan menjadi pemasukan devisa yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi," lanjutnya.

Ia juga menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap ditopang oleh konsumsi dalam negeri yang kuat.

Dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada 2023, maka akan memicu daya beli masyarakat. Naiknya daya beli dapat menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi.

Terkait peluang ekspor, Fahmy mengatakan masih terbuka peluang bagi Indonesia untuk menjajaki ekspor ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Eropa, hingga Jepang karena mereka belum jatuh ke jurang krisis. Kendati begitu ia mengakui kemungkinan terjadinya perlambatan. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA