Sejak pertama kali virus mematikan ini diidentifikasi di Kota Wuhan, bukan hanya China yang merasakan "alarm" bahaya tersebut.
Itu semua karena sejak 40 tahun terakhir, China telah menjadi sosok yang sangat penting bagi sistem perekonomian dunia. China telah tumbuh menjadi tokoh dalam penyeimbang ekonomi dunia.
Sejak 1980-an, China memulai peruntungan sektor manufaktur dengan membuka perekonomian. Sebanyak 500 perusahaan asing didirikan. Angka tersebut terus meningkat hingga pada 2010, sepertiga dari produk yang dihasilkan di planet ini berasal dari China. Dan hingga saat ini, China menjadi kekuatan ekonomi kedua di dunia setelah AS.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perubahan terjadi dalam industri manufaktur China. Upah tenaga kerja di China sudah tidak semurah dulu. Selain itu, persoalan mengenai hak kekayaan intelektual juga ikut bermunculan.
Hingga munculah Covid-19 di Wuhan. Wabah tersebut membuat China harus menutup sektor manufaktur andalannya. Alhasil, banyak negara yang kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan karena mereka terlalu bergantung pada China.
Bagaimana tidak? China adalah produsen alat kesehatan terbesar di dunia, yang sangat dibutuhkan saat ini oleh semua negara. Penutupan manufaktur China tentu membuat dunia ketar-ketir.
Hal yang sama juga terjadi pada obat-obatan di mana China adalah produsen terbear kedua di dunia untuk obat-obatan dan bahan-bahan farmasi lainnya.
Jika sudah begini, dunia akan sadar betapa bergantungnya selama ini pada China.
Jika sudah begini, dunia akan berpikir untuk memindahkan industri manufakturnya dari China.
Dan siapa yang diuntungkan dalam hal ini (tentu jika pandemik sudah berakhir dan dunia sudah mulai membuka kembali sektor ekonomi)?
Seorang pembuat konten YouTube, Jack Chapple, menjawabnya dalam sebuah video bertajuk "There's A Crisis That Is Quietly Creating New Economic Superpowers".
Diunggah pada Minggu (12/4), video tersebut sudah ditonton oleh lebih dari 2,3 juta orang. Di dalamnya, Chapple menganalisa, ada tiga negara yang akan diuntungkan dalam "peralihan" ekonomi dunia.
Di mana menurutnya, dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, Vietnam, India, dan Meksiko diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi super.
VietnamJika dunia mulai mengalihkan industri manufakturnya dari China, negara pertama di Asia yang akan menggantikan China adalah Vietnam.
Selama ini, Vietnam yang berjuang bangkit dari kemiskinan melakukan perombakan ekonomi besar-besaran. Vietnam telah berubah menjadi negara ramah investasi dengan upah rendah dan izin yang mudah.
Dalam kurun waktu 20 tahun, Vietnam telah meningkatkan produk domestik brutonya dari 390 dolar AS menjadi 3.000 dolar AS. Itu adalah pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah.
Jika negara-negara lain mulai memindahkan pabriknya dari China ke Vietnam, Chapple mengatakan, dalam beberapa tahun lagi, Vietnam bisa menyamai Uni Emirat Arab, Singapura, Iran, bahkan Hong Kong.
MeksikoSelain Vietnam, negara yang diuntungkan dari "pandemik corona" adalah Meksiko. Di mana dalam dua tahun terakhir atau dalam masa perang dagang, sebanyak 2 per 3 dari manufaktur AS pindah dari China ke Meksiko.
Pada 2017, ekspor Meksiko mulai meningkat 14 persen menjadi 320 miliar dolar AS. Angka tersebut adalah 42 persen dari ekspor China ke AS.
IndiaSeperti perkiraan banyak pihak, India, sebelum terjadi pandemik pun, diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Dengan populasi yang menyamai China, India menjadi terdepan dalam hal jasa. Terlebih, India memiliki angka penduduk produktif yang sangat tinggi.
Sejak 2002, pertumbuhan ekonomi India meningkat dari 470 dolar AS menjadi 2.100 dolar AS pada 2020. Jika pada 2014, India memproduksi 10 juta ponsel per tahun, pada 2019, India sudah memproduksi 150 juta ponsel per tahun. Menjadikan India sebagai negara manufaktur ponsel terbesar kedua di dunia.
Apabila India bisa memperbaiki infrastruktur dan mengembangkan manufaktur seperti yang China lakukan pada 1980 hingga 1990-an, India dimungkinkan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia, setelah AS dan China.
Kemanakah Indonesia?Hal yang patut dipertanyakan adalah: Kemanakah Indonesia?
Indonesia dengan populasi 270 juta jiwa yang diproyeksikan memiliki generasi emas 2045 tidak masuk menjadi salah satu negara yang akan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Padahal, enam tahun sudah Presiden Joko Widodo menggembar-gemborkan investasi asing.
Bukankah sudah waktunya Indonesia untuk mengevaluasi kebijakan dan strateginya? Tidak melulu pada cara yang sama, tanpa perubahan.
Ketika negara lain sudah melihat peluang dari pandemik, bukankah sudah waktunya bagi Indonesia melakukan hal yang sama? Tidak melulu fokus pada hari ini, namun juga esok dan lusa.
BERITA TERKAIT: