Masalah Perizinan Masih Dikeluhkan Dunia Usaha

4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

Senin, 22 Oktober 2018, 09:07 WIB
Masalah Perizinan Masih Dikeluhkan Dunia Usaha
Foto/Net
rmol news logo Tak terasa usia pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) sudah empat tahun. Dari sektor ekonomi sudah banyak yang dicapai. Namun, masih ada juga pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Misalnya, masalah perizinan yang masih dikeluhkan oleh dunia usaha.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kam­dani mengatakan, dalam empat tahun terakhir sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk menggenjot per­tumbuhan ekonomi. Misalnya, pembangunan infrastruktur, pembenahan perpajakan, kuali­tas tenaga kerja, dan mengenjot investasi. "Di beberapa poin mulai membaik tapi masih ada yang jalan di tempat," kata Shinta kepada Rakyat Merdeka, ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dari sisi infrastruktur, dengan pencapaian yang ada saat ini, dunia usaha cukup puas. Pasal­nya, pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah mampu mendorong penyeba­ran sentra ekonomi jadi lebih baik. "Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) terjadi peningkatan porsi pertumbuhan ekonomi daerah," paparnya.

Adapun untuk investasi, Shinta menilai, pemerintah ber­hasil menggenjot investasi. Banyak aturan yang diregulasi untuk menarik minat investor menanamkan modalnya di In­donesia. "Namun sayangnya hal ini dicederai dengan implemen­tasi Online Single Submission (Sistem perizinan terintegrasi secara elektronik) yang masih bermasalah," ujarnya.

Sedangkan untuk sektor per­pajakan, kata Shinta, hal ini mungkin masih harus ditingkat­kan dari sisi tata cara pelaporan yang lebih efisien dan perumu­san strategi fiskal yang tepat untuk mendorong industri tanpa mengganggu penerimaan negara. "Selain itu, tata cara pengajuan insentif fiskal juga harus lebih mudah," katanya.

Untuk isu tenaga kerja, sam­bung Shinta, pemerintah sudah cukup bagus dengan membuat formula kenaikan Upah Mini­mum Regional (UMP), program pemagangan nasional hingga Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).

"Bila dilihat dari proporsinya jumlah pengangguran menurun, tapi bila dilihat dari jumlah, memang naik sekitar 2 juta (data BPS Februari 2018)," ujarnya.

Kalah Dari SBY

Pengamat ekonomi dari In­stitute for Development of Eco­nomics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, hampir sebagian besar target ekonomi dalam Rencana Pem­bangunan Jangka Menengah Na­sional (RPJMN) tidak tercapai. Cuma inflasi yang relatif lebih terkendali.

Misalnya, target pertumbuhan ekonomi hingga 2019 ditar­getkan rata-rata tujuh persen. Namun, realisasinya dalam empat tahun terakhir hanya lima persen. "Bisa dibilang kinerja pertumbuhan ekonomi era Jokowi memang tertinggal dibanding era Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang pernah mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen," ujarnya.

Penyebab stagnasi pertum­buhan ekonomi era Jokowi, lanjutnya, juga karena industri manufaktur di dalam negeri yang terus menurun porsinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ini cukup mengkhawatir­kan karena industri manufaktur menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar dan multi­plier effect-nya tinggi ke sektor lainnya.

"Di era Jokowi, kita terlalu cepat loncat ke sektor jasa, meninggalkan industri yang makin turun. Artinya poin produktivitas dan daya saing masih menjadi pekerjaan rumah yang belum diselesaikan oleh tim ekonomi Jokowi," ujar Bhima.

Indikator lain adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar yang ditarget dalam RPJMN sebesar Rp 12.000 per dolar AS meleset. Saat ini, realisasinya menyentuh Rp 15.200, dan pelemahan ru­piah tahun depan diperkirakan akan kembali berlanjut. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA