Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah kesiapan jaringan distribusi bahan bakar ramah lingkungan, Biosolar B50, yang dijadwalkan bakal resmi diluncurkan pada awal Juli 2026 mendatang.
Kesiapan komoditas baru ini dipantau ketat di Integrated Terminal (IT) Surabaya, yang tercatat sebagai salah satu terminal bahan bakar terintegrasi terbesar di Indonesia.
Selain Biosolar B50, Pertamina juga mendorong percepatan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) di Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda untuk mengimplementasikan
Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur hijau. Langkah ini menjadi bagian dari target menuju Net Zero Emission Indonesia.
Manager AFT Juanda PT Pertamina Patra Niaga, Dimas Bagus Satriyo Wibowo menjelaskan, fasilitasnya merupakan tulang punggung utama sektor penerbangan domestik di wilayah Jawa Timur.
"AFT Juanda memiliki kapasitas raksasa hingga 20 ribu kiloliter. Fasilitas ini didukung oleh 8 tangki penyimpanan, 7 hydrant dispenser, 9 mobil tangki pengisi avtur (refueller), serta diperkuat 49 operator," ungkap Dimas.
Keandalan operasional di Juanda menjadi sangat krusial karena bertindak sebagai titik suplai (
supply point) utama bagi lima bandara satelit lainnya di Jawa Timur.
Kelima fasilitas yang bergantung pada pasokan AFT Juanda tersebut meliputi AFT Iswahjudi (Madiun), Abdulrachman Saleh (Malang), Dhoho (Kediri), Notohadinegoro (Jember), hingga Blimbingsari (Banyuwangi).
Sementara itu, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan menyebut keandalan pasokan energi merupakan fondasi utama yang menggerakkan roda ekonomi, transportasi, pertahanan, hingga pelayanan publik nasional.
"Saya ingin memastikan kesiapan seluruh lini operasional yang menjadi urat nadi perekonomian dan pemerintahan di wilayah Indonesia Timur, siap menjalankan fungsinya dengan optimal," tegas Iriawan saat meninjau fasilitas operasi Pertamina Patra Niaga di Surabaya, Senin, 29 Juni 2026.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: