Kerja sama dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) bersama Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR).
Kepala Balitsa Catur Hermanto mengatakan, bahwa dengan adanya kerja sama tersebut, diharapkan permasalahan dalam komoditas bawang putih seperti ketersediaan varietas unggul, perbenihan, teknik budi daya dapat tertangani dengan baik.
"Ketersediaan bibit bawang putih menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan bawang putih," ujarnya di Jakarta, Jumat (2/2).
Menurut Catur, sejak lama para petani khususnya yang wilayahnya pernah menjadi sentra penghasil bawang putih tidak tertarik menanam, karena harganya selalu anjlok sehingga merugi. Petani beralih ke tanaman lain yang lebih menjanjikan keuntungan dan benih bawang putih yang biasanya disisihkan akhirnya dijual untuk konsumsi atau rusak.
Pemerintah menggulirkan program peningkatan produksi bawang putih karena hingga akhir 2017 realisasi program penanaman bawang putih yang dibiayai APBNP baru tercatat 1.720 hektare atau 55 persen dari target 3.150 hektare.
Padahal, untuk mengejar target, importir bawang putih yang mendapat kuota diwajibkan memproduksi lima persen dari total impor juga belum dapat dipenuhi. Dari 2.868 hektare luas wajib tanam baru terealisasi 865 hektare hingga akhir 2017.
Ditambahkan Catur, pihaknya bersama ACIAR bertukar informasi terkait perkembangan litbang bawang putih di kedua negara dan menggali peluang kerja sama penelitian dan pengembangan bawang putih. Dalam upaya mengatasi keterbatasan penyediaan bibit bawang putih.
[wah]
BERITA TERKAIT: