Tekan Impor, BI Dorong Penguatan Industri Hulu

Momentumnya Lagi Bagus Nih

Jumat, 04 Agustus 2017, 09:28 WIB
Tekan Impor, BI Dorong Penguatan Industri Hulu
Foto/Net
rmol news logo Bank Indonesia (BI) me­mandang saat ini merupakan momentum yang sangat baik untuk meningkatkan daya saing produk ekspor Indone­sia seiring dengan perbaikan ekonomi dunia yang diproyek­si terus membaik. Oleh karena itu, bank sentral berharap kebi­jakan pemerintah mendukung penguatan industri hulu di dalam negeri.

Deputi Gubenur Senior Mirza Adiyaswara melihat, pengembangan industri hulu memiliki potensi yang besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Misalnya, in­dustri kimia dasar dan logam dasar yang saat ini kebutu­han produknya masih banyak dipenuhi melalui impor.

"Industri hulu yang kuat akan menjadi penopang utama pertumbuhan industri sehingga dapat mengurangi ketergantun­gan pada impor," ucap Mirza di acara seminar bersama den­gan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), di gedung BI, Jakarta, kemarin.

Mirza menyinggung berba­gai Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) yang telah dirilis oleh Pemerintah. Menurutnya, pa­ket kebijakan tersebut bagus. Namun, dia mengingatkan pemerintah untuk memastikan pembangunan infrastruktur untuk mengurangi biaya lo­gistik dan produksi, berjalan dengan baik.

Dia menegaskan, pihaknya akan terus mendukung pengembangan industri dengan cara memelihara stabilitas ekonomi, menjangkar ekspek­tasi inflasi, menstabilkan nilai tukar, serta memitigasi risiko dan kerentanan nasional.

Selain itu, lanjut Mirza, BI juga akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah membahas isu strategis, seperti pengembangan industri pengolahan, serta berperan aktif dalam satuan tugas percepatan reformasi struktural.

"Kami yakin bisa semua ber­jalan baik, kontribusi industri di dalam negeri terhadap PDB (produk domestik bruto) akan kembali tumbuh di atas 20 persen," imbuhnya.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Muliaman Hadad menilai ada tantangan yang harus diantisi­pasi di dalam mendorong kin­erja industri. "Ketika ekonomi naik, maka ada impor barang modal. Makanya pemerintah harus fokus beri insentif untuk mendorong swasta aktif ban­gun industri," katanya.

Direktur Utama PT Pupuk Sriwijaya Palembang (Pusri) Mulyono Prawiro mendukung penguatan industri hulu dalam negeri. Dia mengeluhkan masih tingginya harga gas industri.

"Harga gas di Indonesia yang telatif tinggi, meskipun ada Permen ESDM 40/2016 untuk menekan harga gas. Saat ini harga gas masih mendominasi biaya produksi seh­ingga pada ujungnya harga pupuk bagi petani pun terasa masih tinggi. Sementara biaya produksi kompetititor justru lebih rendah karena tidak ada bea masuk impor urea (pu­puk)," ujarnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA