"Tadi Presiden sudah oke preferensinya Jepang," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki HadimulÂjono usai mendampingi Jokowi dalam pertemuan dengan Presiden JICA.
Menurut Basuki, Presiden Jokowi ingin rencana pemÂbangunan proyek tersebut bisa dipercepat. Makanya, dalam kesempatan itu, beÂkas Gubernur DKI Jakarta tersebut juga meminta keÂpada seluruh jajarannya untuk bekerja cepat.
Selain kedua proyek tersebut, Basuki mengungÂkapkan, Presiden menawarÂkan JICA untuk terlibat dalam pembangunan jalan Tol Trans Sumatera.
Pembicaraan lainnya, lanjut Basuki, Presiden meminta JICA membiayai proyek irigasi, sanitasi, air bersih, dan pembangkit listrik.
Selain Basuki, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung juga ikut menemani Presiden Jokowi dalam perÂtemuan tersebut. Sementara itu, Kitaoka ditemani Duta Besar Jepang untuk IndoneÂsia Masafumi Ishii, Director General JICA untuk Asia Pasifik Yasushi Tanaka, Kepala perwakilan Kantor JICA di Indonesia Naomi Ando, Wakil Sekretaris Utama Kantor Presiden JICA Tokyo Ego AzukizaÂwa dan Perwakilan Senior untuk Kantor Perwakilan JICA Indonesia Shingo Tatematsu.
Sri Mulyani menambahÂkan, Presiden menawarkan Jepang proyek air bersih karena negeri Sakura terseÂbut memiliki banyak keahlian di bidang teknologi pengelolaan air. Bahkan, Jepang juga memiliki beÂberapa pengalaman pemÂbangunan daerah-daerah kecil karena mereka juga negara kepulauan.
Sementara itu untuk tol Trans Sumatera, lanjutnya, proyek tersebut masih memerlukan investasi cukup besar sehingga tidak bisa dibiayai dari satu sumber saja.
"Itu kan panjang sekali dari utara ke selatan sehingga butuh banyak penÂdanaan," terangnya.
Sri Mulyani menilai, respons JICA cukup baik. Mereka menyatakan ingin mempelajari semua penawaran. Namun, ada seÂjumlah requirement yang mereka minta seperti penjaminan dan besaran suku bunga.
"JICA memiliki dua policy loan yaitu tight di mana lebih murah dengan suku bunga hampir 0 persen, jangka waktu panÂjang sekali, namun harus menggunakan supplier atau komponen mereka. Kalau
untight policy, itu lebih bebas karena bisa pakai kontraktor atau supplier mana pun tapi suku bunganya relatif lebih tinggi sekitar 0,25-0,6 persen," ucapnya.
Presiden JICA Shinichi Kitaoka mengungkapkan, bahwa kunjungannya ini merupakan yang pertama ke Indonesia sebagai PresiÂden JICA.
"Saya telah berada di negara ini lima enam kali di masa lalu. Setiap kali saya datang saya terkejut mengetahui perkembanganÂnya, pesatnya pertumbuÂhan ekonomi Indonesia," katanya.
Kitaoka memandang proyek yang ditawarkan Presiden Jokowi cukup bagus karena menyangkut peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah. ***
BERITA TERKAIT: