Ketua Umum Gabungan PenÂgusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, industri makanan dan minuman memÂbutuhkan pasokan garam yang cukup besar untuk produksi. Namun, saat ini pasokannya mulai menipis karena belum ada izin impor garam.
"Kita sudah mendapatkan kabar pemerintah tentang izin impor garam. Kita minta itu bisa segera terealisasi," ujar Adhi keÂpada
Rakyat Merdeka di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut dia, jika pemerintah lamÂbat dalam menambah pasokan garam dalam negeri akan berdampak pada kinerja industri. "Kami berharap imÂpor bisa cepat, ya mudah-mudahan segera realisasi. Stok sudah kritis, jika terjadi kekosongan berbahaya," imbuhnya.
Untuk tahun ini, kata dia, industri mamin perlu pasokan sekitar 500 ribu ton. PeningkaÂtan kebutuhan garam disesuaiÂkan dengan kenaikan produksi. Dia menjelaskan, industri sulit untuk tidak melakukan impor mengingat kualitas bahan baku dalam negeri tidak sesuai dengan standar perusahaan.
"Tahun lalu saja, sebagian besar kebutuhan garam yang mencapai 450 ribu ton dipenuhi dari impor. Untuk garam dalam negeri kita gunakan dari PT Garam," jelasnya.
Industri mamin mengandalkan impor karena garam industri yang diproduksi di dalam negÂeri sangat jarang memenuhi persyaratan spesifikasi dan mutu. Meski saat ini kerepotan mendapatkan bahan baku garam, industri makanan dan minuÂman optimistis mampu tumbuh positif tahun ini.
Ketua Umum Asosiasi PertekÂstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat juga mengeluhkan pasokan garam untuk industri menipis. Padahal, kata dia, industri tekstil membutuhkan garam proses pencelupan. "KeÂbutuhan tergantung kapasitas pencelupannya. Kalau yang besar pasti kebutuhan banyak, kalau yang kecil pasti sedikit kebutuhannya juga," katanya.
Menurutnya, dalam kondisi normal permintaan terhadap garam biasanya mudah dipenuhi oleh produsen. Tapi, dalam sebuÂlan terakhir permintaan garam tak kunjung dikirim. Padahal, sebelumnya kondisi tersebut tak pernah terjadi. "Akibatnya banÂyak industri yang mengurangi produksinya," jelasnya.
Selain itu, Ade juga mengeÂluhkan, melonjaknya harga gaÂram akibat langkanya pasokan. Dalam kondisi normal harga eceran garam hanya ditentukan berdasarkan kualitas. Untuk garam K1 dibanderol seharga Rp 750 per kg. k2 dijual Rp 550 per kg dan garam k3 seharga Rp 450 per kg. "Tidak banyak piliÂhan yang bisa dilakukan industri tekstil," jelasnya.
Sekretaris Jenderal Asosiasi InÂdustri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Cucu Sutara mengatakan, kebutuhan garam nasional setiap tahunnya mencapai 4,23 juta ton. Sedangkan stok yang ada saat ini hanya 112.671 ton.
Sementara, jumlah produksi garam dalam negeri pada 2016 kemarin hanya 116 ribu ton. "Yang sebelumnya di 2016 itu sudah gagal panen sudah saya katakan memang harus ada imÂpor," ujarnya.
Kebutuhan garam untuk inÂdustri, kata dia, lebih besar dibanding konsumsi rumah tangÂga. Dalam setahun, kebutuhan garam untuk konsumsi rumah tangga hanya 750 ribu ton per tahun, sedangkan untuk industri lebih dari tiga juta ton.
Makanya dia meminta pemerÂintah agar segera mencari solusi terkait menipisnya stok garam saat ini. Jika dibiarkan tanpa solusi, ia khawatir akan berdampak signifiÂkan terhadap banyak sektor seperti ekonomi dan kesehatan.
Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) JakÂfar Sodikin mengakui dari akhir tahun 2016 produksi garam dari petani sudah lesu. Keseringan gaÂgal panen akibat cuaca membuat produksi garam menurun. "JanÂgankan untuk industri, garam buat konsumsi saja sekarang sudah parah sekali ini," akunya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, stok yang ada sekarang tinggal garam yang kurang bagus. Petani biasanya disebut garam KW 2, KW 3, dan KW 4. Karena itu, impor pun tidak akan terelakan.
Kendati begitu, dia mewanti-wanti pemerintah supaya jangan kebesaran membuka keran impor garam. "Kami bukan dalam posisi setuju atau tidak setuju, kalau intiÂnya impor diperlukan ya silahkan saja karena memang kenyataan di petani sekarang," ujarnya.
Dia menyebut garam yang harus dicukupi adalah Maret, April, dan Mei 2017. Setelah bulan itu, kondisi garam naÂsional yang diproduksi petani sudah bisa berjalan normal lagi. Kegagalan panen diprediksi tidak akan berlarut lama.
"Tiga bulan saja yang harus dicukupi jangan kelebihan, karena kita dari petani bisa meÂmenuhi kebutuhan garam. Ya pokoknya kalau mau impor janÂgan sampai merugikan petani," tukasnya. ***
BERITA TERKAIT: