Terlepas dari benar atau tidaknya alasan pencopotan dirut Pertamina, memang sudah seharusnya pemerintah terbuka dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait hal tersebut.
Direktur Executive Energy Watch‎ Mamit Setiawan menegaskan, Pertamina merupakan satu kesatuan entitas baik itu sektor hulu maupun sektor hilir yang tidak bisa dipisahkan.
"Dua sektor tersebut saling men-support satu sama lain terhadap pendapatan Pertamina sebagai Perseroan. Karena itu, sosok dirut Pertamina haruslah yang berkompeten di dua sektor tersebut," kata Mamit.
Sektor hulu merupakan harapan bangsa Indonesia dalam menemukan cadangan migas baru.
Di tengah harga minyak dunia yang masih stagnan di kisaran 52-57 dolar AS per barel, Pertamina Hulu dituntut bekerja keras agar target lifting bisa tercapai.
Sementara sektor hilir juga merupakan tulang punggung pemerintah dalam menyalurkan BBM dan LPG ke seluruh wilayah Indonesia.
"Di tengah harga minyak mentah dunia seperti ini, sektor hilir memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap keuntungan Pertamina," terang Mamit.
Berdasarkan laporan keuangan Pertamina tahun 2016, Penjualan BBM pada triwulan III 2016 mencapai 47,77 juta KL atau naik tipis sekitar 4,3 persen dari 45,81 juta KL pada periode yang sama tahun 2015. Sementara untuk penjualan Non BBM sampai dengan akhir September 2016 mencapai 6,64 juta KL dari atau naik 4,8 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain itu, sektor Geothermal juga perlu dikembangkan Pertamina ke depan.
"Padahal, pada tahun 2016, PGE berhasil mengumpulkan laba sebesar 107 juta dolar AS dan telah berhasil melakukan menghasilkan daya listri sebesar 532 MW. ‎Karenanya, direktur utama Pertamina yang akan datang harus mempunyai sikap integritas dan selalu mengedepankan kepentingan Pertamina dan Indonesia," tegasnya
.[wid]
BERITA TERKAIT: