Jokowi: Insya Allah Maret 2019 Rampung

Blusukan Ke Terowongan MRT

Jumat, 24 Februari 2017, 10:31 WIB
Jokowi: Insya Allah Maret 2019 Rampung
Foto/Net
rmol news logo Presiden Joko Widodo kemarin meninjau kembali proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Presiden me­nyambangi terowongan bawah tanah di kawasan Setiabudi. Mengenakan kemeja putih, Jokowi tiba dilokasi sekitar pukul 11.00 WIB.

Bekas Gubernur DKI Ja­karta itu didampingi Men­teri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono, Men­teri BUMN Rini Soemarno, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan Presi­den Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar.

Jokowi masuk ke lokasi proyek melalui tangga daru­rat. Dari permukaan jalan ke terowongan bawah tanah itu berjarak sekitar 300 meter. Sekitar 20 menit Jokowi dan rombongan memantau penger­jaan proyek.

Jokowi mengungkapkan, seluruh terowongan yang dibangun untuk MRT telah terhubung satu sama lainnya.

"Pada 2018 sudah bersih. Insya Allah, pada bulan Maret 2019, MRT sudah bisa operasi. Kita berharap jadwal itu betul-betul terus kita ikuti agar se­lesai tepat pada waktunya," imbuh Jokowi.

Pembangunan MRT ini merupakan tahap Idengan rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia. Rute ini memiliki panjang 15, 7 kilo meter (km) dan akan melintasi 13 stasiun dengan rincian 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah.

Jokowi mengatakan, se­jauh ini tidak ada masalah dengan pembiayaan proyek. Menurutnya, MRT merupa­kan proyek keroyokan yang pembiayaannya bersumber dari dana Anggaran Pendapa­tan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), badan usaha (KPBU), dan swasta.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku puas dengan kemajuan pengerjaan proyek MRT.

"Ini merupakan hari terakhir upaya melakukan peker­jaan pengeboran dari dua sisi dan empat bor. Sejauh ini tidak saya temukan kekurangan karena memang kita ini melakukannya dengan hati-hati," ujarnya.

BKS -sapaan akrabnya-menuturkan, sebuah proyek infrastruktur memang bukan pekerjaan mudah dan mu­rah, tetapi harus dibangun. Karena, keberhasilan proyek infrastruktur transportasi akan membuat efisiensi yang tinggi untuk masyarakat.

BKS berharap, masyarakat dapat menggunakan trans­portasi publik dengan baik mengingat biayanya mahal. "Masyarakat harus menjunjung sopan santun, tidak merokok, dan membudayakan kedi­siplinan seperti harus antri," ucapnya.

Presiden Direktur PT MRT William Sabandar mengata­kan, pembangunan MRT tahap pertama, sudah rampung 64,7 persen.

"Kami menargetkan sam­pai akhir tahun ini menca­pai 93 persen. 1 Maret 2019 mudah-mudahan sudah bisa beroperasi," harapnya.

Dia menjelaskan, Setia­budi dipilih sebagai lokasi peninjauan karena di tempat ini mata bor dari arah selatan dan utara bertemu. PT MRT mengoperasikan empat mesin mata bor, masing-masing dua dari utara dan dua lainnya dari selatan. Dua mesin bor bawah tanah, Mustikabumi Idan Mustikabumi II, dioperasikan dari Bundaran HImenuju selatan dan kini sudah sampai Stasiun Setiabudi.

William mengungkapkan, dalam proyek ini ada kendala pembebasan lahan. Dari 136 bidang tanah yang dibebas­kan, terdapat 14 bidang tanah yang bermasalah dan saat ini sedang diproses di pengadilan.

"Ada tiga pemilik tanah yang meminta ganti rugi Rp 150 juta per meter. Padahal, NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) hanya Rp 25 juta dan hasil valuasi dari appraisal sekitar Rp 30 juta per meter. Tetapi, proyek ini akan tetap jalan," tegasnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA