Bekas Gubernur DKI JaÂkarta itu didampingi MenÂteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono, MenÂteri BUMN Rini Soemarno, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan PresiÂden Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar.
Jokowi masuk ke lokasi proyek melalui tangga daruÂrat. Dari permukaan jalan ke terowongan bawah tanah itu berjarak sekitar 300 meter. Sekitar 20 menit Jokowi dan rombongan memantau pengerÂjaan proyek.
Jokowi mengungkapkan, seluruh terowongan yang dibangun untuk MRT telah terhubung satu sama lainnya.
"Pada 2018 sudah bersih. Insya Allah, pada bulan Maret 2019, MRT sudah bisa operasi. Kita berharap jadwal itu betul-betul terus kita ikuti agar seÂlesai tepat pada waktunya," imbuh Jokowi.
Pembangunan MRT ini merupakan tahap Idengan rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia. Rute ini memiliki panjang 15, 7 kilo meter (km) dan akan melintasi 13 stasiun dengan rincian 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah.
Jokowi mengatakan, seÂjauh ini tidak ada masalah dengan pembiayaan proyek. Menurutnya, MRT merupaÂkan proyek keroyokan yang pembiayaannya bersumber dari dana Anggaran PendapaÂtan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), badan usaha (KPBU), dan swasta.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku puas dengan kemajuan pengerjaan proyek MRT.
"Ini merupakan hari terakhir upaya melakukan pekerÂjaan pengeboran dari dua sisi dan empat bor. Sejauh ini tidak saya temukan kekurangan karena memang kita ini melakukannya dengan hati-hati," ujarnya.
BKS -sapaan akrabnya-menuturkan, sebuah proyek infrastruktur memang bukan pekerjaan mudah dan muÂrah, tetapi harus dibangun. Karena, keberhasilan proyek infrastruktur transportasi akan membuat efisiensi yang tinggi untuk masyarakat.
BKS berharap, masyarakat dapat menggunakan transÂportasi publik dengan baik mengingat biayanya mahal. "Masyarakat harus menjunjung sopan santun, tidak merokok, dan membudayakan kediÂsiplinan seperti harus antri," ucapnya.
Presiden Direktur PT MRT William Sabandar mengataÂkan, pembangunan MRT tahap pertama, sudah rampung 64,7 persen.
"Kami menargetkan samÂpai akhir tahun ini mencaÂpai 93 persen. 1 Maret 2019 mudah-mudahan sudah bisa beroperasi," harapnya.
Dia menjelaskan, SetiaÂbudi dipilih sebagai lokasi peninjauan karena di tempat ini mata bor dari arah selatan dan utara bertemu. PT MRT mengoperasikan empat mesin mata bor, masing-masing dua dari utara dan dua lainnya dari selatan. Dua mesin bor bawah tanah, Mustikabumi Idan Mustikabumi II, dioperasikan dari Bundaran HImenuju selatan dan kini sudah sampai Stasiun Setiabudi.
William mengungkapkan, dalam proyek ini ada kendala pembebasan lahan. Dari 136 bidang tanah yang dibebasÂkan, terdapat 14 bidang tanah yang bermasalah dan saat ini sedang diproses di pengadilan.
"Ada tiga pemilik tanah yang meminta ganti rugi Rp 150 juta per meter. Padahal, NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) hanya Rp 25 juta dan hasil valuasi dari appraisal sekitar Rp 30 juta per meter. Tetapi, proyek ini akan tetap jalan," tegasnya. ***
BERITA TERKAIT: