Kawasan Industri Morowali Diguyur Investasi Rp 51 T

Rabu, 08 Februari 2017, 08:54 WIB
Kawasan Industri Morowali Diguyur Investasi Rp 51 T
Foto/Net
rmol news logo Kawasan Industri Morowali atau Indonesia Morowali Indus­trial Park (IIMP) yang berada di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengklaim te­lah menarik investasi sebesar 3,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 51,9 triliun. Investasi tersebut menyumbang produk domestik bruto (PDB) Sulteng sebesar Rp 97,8 triliun pada 2016.

"Ada tiga smelter (pengo­lahan) nikel yang dibangun di kawasan industri terinte­grasi IIMP," kata CEO IIMP Alexander Barus di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, ketiga smelt­er nikel tersebut adalah PT Su­lawesi Mining Investment den­gan kapasitas 300.000 matrik ton (MT) senilai 635 juta dolar AS. Smelter ini didukung den­gan pembangkit listrik (power plant) berbahan batu bara 2x65 megawatt (MW).

Kedua adalah PT Guang Ch­ing Nickel and Stainless Steel Industry. Perusahaan smelter ini berkapasitas 600.000 MT dan 1 juta Matrik Ton Per Annum (MTPA) stainless steel slab. Dengan didukung pembangkit 2x150 MW, investasi yang digelontorkan mencapai 1,04 miliar dolar AS.

Smelter ketiga adalah PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel senilai 820 juta dolar ASdengan kapasitas 600.000 MT nikel dan 1 juta MTP Astainless steel slab. "Ini on going, di­harapkan pabrik tersebut sudah bisa beroperasi pada Juni 2017," kata Alex.

Selain itu, IIMP dilengkapi pabrik ferrochrome berkapasitas 600.000 MTPA dan stainless steel coil berkapasitas 700.000 MTPA. Pabrik yang didirikan PT Indonesia Ruipi Nickel and Chrome Alloy pada April 2015 ini sedang dalam proses konstruksi.

Sementara PTT singhan Steel Indonesia yang didirikan pada Januari 2017 akan memproduksi carbon steel berkapasitas 1 juta MTPA. "Kedua pabrik ini masih on going dan diharapkan 3-5 tahun ke depan rampung," kata Alex.

Alex menambahkan, Kawasan Industri Morowali juga telah berhasil mengekspor produk smelter sebesar 990 juta dolar ASatau sekitar Rp 13 triliun dengan kurs Rp 13.330 pada 2016. Dari jumlah tersebut, ka­wasan industri ini berkontribusi pada penerimaan negara sekitar Rp 1,7 triliun.

Selain itu, Kawasan Industri Morowali juga memberikan sumbangan pada penerimaan negara melalui sektoran pajak sebesar Rp 1,7 triliun dengan nilai investasi sebesar 3,9 miliar dolar AS. Selain itu, keberadaan kawasan ini juga memberikan pendapat pada daerah sebesar Rp 97,9 triliun.

Alex juga berharap, pemer­intah mengkaji kembali pem­bukaan keran ekspor mineral mentah rendah. Sebab, kebi­jakan tersebut bisa membuat in­vestor smelter menghentikan operasinya. Sebab, pembukaan ekspor sempat membuat inves­tor smelter ragu-ragu untuk melanjutkan investasinya di Morowali. Apalagi, mereka sudah menanamkan modalnya cukup banyak untuk memban­gun smelter.

Sebelumnya, Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) Kemen­terian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Ga­tot Ariyono mengatakan, sampai saat ini belum ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang men­gajukan rekomendasi ekspor ore setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No­mor 1 Tahun 2017 pertengahan Januari lalu.

Menurutnya, hal ini ke­mungkinan disebabkan oleh banyaknya persyaratan yang ditetapkan pemerintah sebagai syarat rekomendasi ekspor. Apalagi, syarat tersebut be­gitu banyak, dan diklaim bisa menciutkan niat perusahaan tambang untuk ek­spor. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA