"Ada tiga smelter (pengoÂlahan) nikel yang dibangun di kawasan industri terinteÂgrasi IIMP," kata CEO IIMP Alexander Barus di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, ketiga smeltÂer nikel tersebut adalah PT SuÂlawesi Mining Investment denÂgan kapasitas 300.000 matrik ton (MT) senilai 635 juta dolar AS. Smelter ini didukung denÂgan pembangkit listrik (power plant) berbahan batu bara 2x65 megawatt (MW).
Kedua adalah PT Guang ChÂing Nickel and Stainless Steel Industry. Perusahaan smelter ini berkapasitas 600.000 MT dan 1 juta Matrik Ton Per Annum (MTPA) stainless steel slab. Dengan didukung pembangkit 2x150 MW, investasi yang digelontorkan mencapai 1,04 miliar dolar AS.
Smelter ketiga adalah PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel senilai 820 juta dolar ASdengan kapasitas 600.000 MT nikel dan 1 juta MTP Astainless steel slab. "Ini on going, diÂharapkan pabrik tersebut sudah bisa beroperasi pada Juni 2017," kata Alex.
Selain itu, IIMP dilengkapi pabrik ferrochrome berkapasitas 600.000 MTPA dan stainless steel coil berkapasitas 700.000 MTPA. Pabrik yang didirikan PT Indonesia Ruipi Nickel and Chrome Alloy pada April 2015 ini sedang dalam proses konstruksi.
Sementara PTT singhan Steel Indonesia yang didirikan pada Januari 2017 akan memproduksi carbon steel berkapasitas 1 juta MTPA. "Kedua pabrik ini masih on going dan diharapkan 3-5 tahun ke depan rampung," kata Alex.
Alex menambahkan, Kawasan Industri Morowali juga telah berhasil mengekspor produk smelter sebesar 990 juta dolar ASatau sekitar Rp 13 triliun dengan kurs Rp 13.330 pada 2016. Dari jumlah tersebut, kaÂwasan industri ini berkontribusi pada penerimaan negara sekitar Rp 1,7 triliun.
Selain itu, Kawasan Industri Morowali juga memberikan sumbangan pada penerimaan negara melalui sektoran pajak sebesar Rp 1,7 triliun dengan nilai investasi sebesar 3,9 miliar dolar AS. Selain itu, keberadaan kawasan ini juga memberikan pendapat pada daerah sebesar Rp 97,9 triliun.
Alex juga berharap, pemerÂintah mengkaji kembali pemÂbukaan keran ekspor mineral mentah rendah. Sebab, kebiÂjakan tersebut bisa membuat inÂvestor smelter menghentikan operasinya. Sebab, pembukaan ekspor sempat membuat invesÂtor smelter ragu-ragu untuk melanjutkan investasinya di Morowali. Apalagi, mereka sudah menanamkan modalnya cukup banyak untuk membanÂgun smelter.
Sebelumnya, Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) KemenÂterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang GaÂtot Ariyono mengatakan, sampai saat ini belum ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang menÂgajukan rekomendasi ekspor ore setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) NoÂmor 1 Tahun 2017 pertengahan Januari lalu.
Menurutnya, hal ini keÂmungkinan disebabkan oleh banyaknya persyaratan yang ditetapkan pemerintah sebagai syarat rekomendasi ekspor. Apalagi, syarat tersebut beÂgitu banyak, dan diklaim bisa menciutkan niat perusahaan tambang untuk ekÂspor. ***
BERITA TERKAIT: