Wakil Ketua Komisi VI DPR Mochamad Hekal menegaskan, posisi dirut Pertamina harus diisi oleh sosok internal dan harus bebas dari kepentingan dagang. Sebab, Pertamina adaÂlah salah satu BUMN paling strategis.
"Pimpinan baru Pertamina harus bebas dari kepentingan dagang. Kepentingan yang harus diperjuangkan dirut baru Pertamina harus satu, yaitu kepentingan nasional," tegas politisi Gerindra ini, kemarin.
Dia menekankan, dirut baru harus benar-benar bisa menjaga Pertamina dari segi efisiensi dan meningkatkan kinerja produksi. Dirut baru Pertamina harus berusaha mengembangÂkan perusahaan sehingga menÂjadi kebanggan bangsa. Dirut Pertamina jangan dibebani dengan pikiran-pikiran lain yang membuat konsentrasinya buyar. "Rakyat dan negara harus jadi prioritas utama dirut baru," pungkas dia.
Di tempat terpisah, Wakil Komisi VII DPR Satya Widya Yudha meminta pemerintah tidak berlama-lama menunÂjuk dirut baru Pertamina untuk mengisi kursi kosong selepas pencopotan Dwi Soetjipto. Sebab, pelaksana tugas dianggap tidak memiÂliki wewenang penuh untuk mengendalikan Pertamina yang begitu besar.
Untuk sosok yang bakal dipilih, politisi Golkar ini menyerahkan sepenuhnya keÂpada pemerintah. Dia hanya meminta agar dirut baru adaÂlah orang yang betul-betul mengerti minyak dan punya kemampuan manajerial yang baik.
"Yang kami kehendaki adaÂlah memilih seorang dirut yang betul-betul mumpuni, memÂpunyai latar belakang yang cukup di bidang manajemen dan juga mumpuni di sektor minyak dan gas bumi. Kami tidak menginginkan dirut yang baru mengalami masa transisi yang lama dalam memimpin Pertamina," kata Satya.
Untuk mendapat sosok itu, Satya menyarankan pemerinÂtah mengambil dari internal Pertamina. Sehingga, dirut baru itu sudah mengetahui seluk beluk perusahaan. Para pejabat di bawahnya juga tinggal mengikuti arah kebiÂjakan perusahaan dari dirut baru. Sehingga mereka bisa langsung kerja, tanpa perlu masa transisi, apalagi penyeÂsuaian.
"Jangan jadikan Pertamina ini sebagai industri trial and error dengan memilih orang yang tidak mengerti minyak. Kasihan industrinya," ujar Satya.
Soal pemberhentian Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang, Setya mengaku sedikit terkejut. Sebab, dia melihat kinerja Dwi selama ini cukup baik. Dalam dua tahun kepemimpinan Dwi, Pertamina mampu mencatatÂkan kinerja positif. Bahkan, Pertamina mampu membuÂkukan laba melebihi perusaÂhaan minyak milik Malaysia, Petronas.
"Pemutusan dan penggeseran dirut ini sangat anomali dengan kinerja Pertamina yang membumbung tinggi, dengan laba sekitar Rp 40 triliun. Angka ini melebihi Petronas," tandasnya. ***
BERITA TERKAIT: