Rini mengatakan, calon orang nomor satu di perusahaan minÂyak dan gas (migas) pelat merah itu diprioritaskan dari internal. Namun, tidak menutup kemungÂkinan jika calonnya berasal dari luar Pertamina.
"Bisa saja calonnya dari luar, asalkan memenuhi kriteria dan lolos penilaian akhir," kata Rini di Jakarta.
Dilanjutkannya, sebagai BUMN, Pertamina akan menÂjalankan pemilihan calon dirut dengan berpedoman pada
good corporate governance.
Ada mekanisme yang harus dilalui dalam penunjukan direkÂtur utama Pertamina.
Diterangkan Rini, Dewan Komisaris harus menulis surat dan beri usulan siapa saja nama yang diajukan kepada KementeÂrian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas dan perwakilan pemerintah.
Setelah lolos seleksi dan disÂetujui Menteri BUMN, nantinya nama akan diserahkan ke PresiÂden Joko Widodo (Jokowi).
"Pada akhirnya, nama calon Dirut kami usulkan ke Presiden. Nanti Presiden yang akan meÂnentukan," tutur Rini.
Sebagai regulator sekaliÂgus perwakilan pemerintah di BUMN, Kementerian BUMN juga bertugas mengevaluasi siapa orang dari luar Pertamina yang bisa memimpin Pertamina.
"Kalau dari saya belum terÂpikirkan. Tapi nanti akan kita evaluasi. Tapi saya serahkan ke Presiden. Biar nanti Presiden yang menentukan," ujar Rini.
Wakil Komisi VI DPR Azam Azman Natawijana khawatir, akan banyak kepentingan yang bermain dalam pemilihan Dirut Pertamina saat ini.
Karena itu, ia meminta semua pihak, termasuk DPR mengaÂwasi pemilihan ini.
"Kita khawatir, dirut PerÂtamina ke depan hanya jadi kendaraan bagi oknum tertentu (mafia) yang ingin mengambil keuntungan dari Pertamina. Makanya, kita harus awasi, siapa-siapa yang nanti diajukan sebagai calon dirut. Harus jelas
track recordnya," kata Azam kepada
Rakyat Merdeka.Ia tidak mempermasalahkan jika nantinya dirut diambil dari luar Pertamina.
"Kalau berkompeten dan beÂbas kepentingan, kita dukung. Tapi tentunya harus lewat TPA dan finalnya di presiden," teÂgasnya.
Harus TransparanDirektur Indonesia Resource Studies (IRESS) Marwan BaÂtubara mengatakan, sebelum memilih dirut baru buat PerÂtamina, pemerintah diminta transparan terkait pencopotan dua direksi tersebut.
Jika pemerintah tak melakuÂkan itu, maka kepercayaan publik terhadap Kementerian BUMN bisa pudar.
"Ini harus dijelaskan ke pubÂlik secara rinci. Jangan sampai terkesan ada yang disembunyiÂkan, karena posisi Dirut di PerÂtamina ini sarat kepentingan," kata Marwan.
Ia menilai, kinerja Pertamina dalam beberapa tahun terahir cuÂkup baik, karena itu publik harus diberi kesempatan untuk tahu, apa sebetulnya yang terjadi.
Ia khawatir isu "matahari kembar" yang sebelumnya ramai diberitakan sengaja diembuskan oleh satu oknum untuk memuÂluskan agenda tertentu.
"Untuk mengurangi spekulasi publik, kita meminta pemerintah juga menerapkan tata kelola komunikasi yang baik. Setelah memilih dirut baru, Kementerian BUMN juga harus memperhatiÂkan manajemen Pertamina agar bisa dikelola secara profesional," tegas Marwan.
Seperti diketahui, Direktur Utama Pertamina Dwi SoÂetjipto dan Wakil Dirut Ahmad Bambang diberhentikan melaÂlui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Jumat (3/2).
Dalam rapat itu, RUPS juga menunjuk Yenny Handayani yang sebelumnya menjabat Direktur Gas dan EBTKE sebagai pelakÂsana tugas (Plt) Dirut. ***
BERITA TERKAIT: