Berdasarkan pantauan
RakÂyat Merdeka di beberapa wilaÂyah Jawa Tengah akhir pekan lalu masih ditemui antrean mobil, bus dan truk untuk membeli BBM subsidi jenis solar. Bahkan, di beberapa pom bensin tidak menjual solar karena stoknya habis.
Salah satu pom bensin yang kehaÂbisan solar adalah pom bensin yang berada di daerah Lempuyangan, Jawa Tengah. Di pom bensin ini solar subsidi sudah habis. Tio, petugas jaga meÂngatakan, pasokan solar belum datang. Kendati pihaknya menyediakan pertamina dex alias solar non subsidi tapi peminatnya minim karena harganya dua kali lipat harga solar subsidi.
“Kalau solar ada pasti langsung habis karena banyak truk dan mobil diesel yang cari dan itu pun harus antre,†katanya.
Bahkan, antrean truk yang ingin membeli solar banyak ditemui di pom bensin yang masih menjual solar. Kelangkaan solar subsidi juga terjadi di pom bensin PurÂwokerto, Jawa Tengah. Karyawan pom bensin Waluyo mengatakan, hampir 24 jam pom bensin yang berada di tengah kota Purwokerto itu tak menjual solar. “Kami sempat tak menjual solar lebih dari 24 jam. Ya dihiÂtung-hitung rugi, kami tak bisa menjual 8.000 liter solar,†kata Waluyo.
Ditanya kenapa kelangkaan solar terjadi, pria berkacamata itu menjawab karena adanya pembaÂtasan solar dari Depot Pertamina Maos, Cilacap, Jawa Tengah.
Vice President Corporate ComÂmunication PT Pertamina Ali Mundakir mengatakan, perseÂroaan tetap menyalurkan solar sesuai kuota yang ditetapÂkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kita sesuaikan dengan kuota dalam APBN. Tidak ada pemÂbatasan,†kilahnya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, kelangkaan yang terjadi karena peningkatan konÂsumsi. Padahal penyaluran tetap sesuai permintaan.
Anggota Komisi VII DPR Rofi’ Munawar mengatakan, keÂlangkaan solar yang terjadi di wilayah Jawa Tengah dan SuÂmatera Utara karena penerapan PerÂaturan Menteri (Permen) ESDM No 1 Nomor 2013 tentang pengendalian pengÂgunaan bahan bakar minyak.
Menurutnya, program pengenÂdalian BBM yang dijalankan pemerintah selama ini selalu berÂkonsekuensi pada reaksi ekstrem di tingkat konsumen maupun distributor. Konsumen kehilaÂngan pasokan seketika dan terjadi kepanikan, sedangkan di sisi penyalur melakukan pembatasan dengan dalih kuota tanpa soÂsialisasi yang cukup kompreÂhensif kepada masyarakat.
Rofi mengimbau pemerintah segera membangun strategi peÂngendalian BBM yang dilakukan secara komprehensif baik dari sisi teknis maupun non teknis. Dari sisi teknis perlu adanya moniÂtoring secara berkala dan bersifat online, kemudian menyiapkan strategi bahan bakar alternatif yang terjangkau dan efisien.
Di sisi lain pengendalian harus dikomunikasikan pemerintah secara terukur dan terencana agar masyarakat dapat memahami dengan baik kebijakan tersebut.
Pengendalian BBM harus berÂsinergi dan berkoordinasi secara intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, selama ini proses yang terjadi seringkali sangat sektoral.
“Ketika terjadi kelangkaan seperti saat ini yang terjadi adalah saling menyalahkan dan penyeÂlesaian reaktif. Jika ini tidak dilakukan kita akan menyaksikan kelangkaan sepanjang tahun di berbagai daerah.†tegas Rofi.
Rofi menambahkan, penuruÂnan kuota solar secara sadar akan mempengaruhi mobilitas barang dan jasa, karena pergerakannya mengandalkan moda transportasi truk yang lebih banyak mengÂgunakan solar.
Untuk diketahui, pemerintah menarÂgetkan program pengenÂdalian BBM bersubsidi tahun 2013 untuk kendaraan dinas pemerintah, Pemda, BUMN dan BUMD di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi serta kendaraan barang roda lebih dari empat untuk sektor perkebunan, pertambangan, kehutanan dan kapal barang non perintis serta kapal non pelayaran rakyat.
Kuota solar subsidi tahun 2013 diwilayah Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarat yang telah ditetapkan oleh BPH Migas sebesar 1.878.843 kiloÂliter (kl), angka ini lebih rendah 4 persen dibandingkan kuota solar subsidi tahun 2012 sebesar 1.947.822 kl.
Sedangkan, kuota solar untuk Sumatera bagian utara tahun ini direncanakan turun 244.340 kiloliter menjadi 2.535.946 kiloliter dari 2012 yang masih 2.780.286 kiloliter. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: