Kepala BPS Suryamin menjeÂlaskan, inflasi tahun kalender berÂada sekitar 2,43 persen dan inflasi secara
year-on-year (yoy) di 5,90 persen. Sementara, secara yoy inflasi inti berada di 4,21 persen dan 0,13 persen untuk Maret.
“Kalau lihat 0,63 masih tinggi dibandingkan lima tahun belaÂkangan, kecuali Maret 2008, tapi dibandingkan 2009, 2010, 2011, dan 2012 lebih tinggi. Hal ini didominasi kenaikan harga bahan makanan,†ujar Suryamin di kantornya, kemarin.
Menurut dia, dari 66 kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) di 58 kota tercatat mengalami inflasi. Sementara delapan kota deflasi. Inflasi tertinggi di Sorong yang beÂrada di 1,73 persen dan PangÂkal Pinang dan Cirebon 1,7 persen.
Sedangkan terrendah Pekan Baru 0,04 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Jaya Pura 2,63 persen dan Tanjung Pinang 0,87 persen. “Maret dan April masa-maÂsa panen, jadi ada komoditi meÂÂnurun bisa menderek ke bawah,†ujar Suryamin.
Suryamin mengatakan, walauÂpun demikian bahan makanan menjadi hal menonjol jelas peÂnyebab inflasi. Jadi pemerintah diÂimbau melihat kontrol bahan maÂkanan ke depan.
Dia juga menyatakan, jika peÂmerintah mampu menjaga harga yang bergejolak selama tiga buÂlan terakhir, kemungkinan target inflasi pemerintah akan tercapai sebesar 4,9 persen.
“Kan kita masih Maret, berarti masih berjalan tiga bulan, padahal kita masih ada sembilan bulan lagi. Untuk prediksi 4,9 persen terganÂtung pengendalian pemerintah terÂhadap penyebab inflasi,†ujarnya.
Sisa waktu yang sembilan bulan, kata dia, sangat penting untuk mencapai target inflasi 4,9 persen. Pemerintah bisa meÂngamÂbil peran mengendalikan bahan makanan yang terus bergejolak selama ini.
“Berdasarkan data harus ada upaya sisa bulan berikutnya mengendalikan harga, supaya target tercapai,†tuturnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: