Kelangkaan solar bersubÂsidi terjadi di jalur Pantura di KenÂdal Jawa Tengah. Hal terseÂbut terlihat dari panjangnya anÂtrian di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Pantura, BrangÂsong, Kendal.
Dari 13 SPBU dari perbatasan KenÂdal Semarang sampai daerah perbatasan Kendal, Batang haÂnya dua unit SPBU yang memÂpunyai stok solar. Itu pun hanya menjual solar non subsidi. KeÂlangkaan solar di daerah ini sudah terjadi sejak Senin (18/03).
“Sudah empat SPBU saya daÂtangi, tidak ada pasokan, saya baru mendapatkan di SPBU di PanÂtura Brangsong,†keluh SuÂmaidi, sopir truk yang biasa meÂlintasi Pantura, kemarin.
Kelangkaan solar subsidi juga terjadi di Pekanbaru, Riau. KendÂaraan jenis truk, bus besar terlihat mengantri di SPBU Pekanbaru.
Hasan, supir bus mengatakan, antrian sudah terjadi sejak maÂlam. “Semalam saya mau isi antri. Sekarang mau coba lagi terÂnyata masih antri,†kata Hasan.
Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan BataÂbara menilai, kelangkaan BBM tidak haÂnya disebabkan kebijakan pemÂÂÂbatasan. Tetapi, diduga ada pihak-piÂhak yang sengaja melaÂkukan penimÂbuÂnan.
“Saya melihat ada oknum telah menangkap sinyal pemerintah mau menaikkan harga solar. Mereka berspekulasi dengan haÂrapan bila kenaikan harga jadi bisa meraup untung besar,†kata Marwan kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Untuk itu dia meminta, PertaÂmina mencari tahu penyebab kelangÂkaan. Apakah benar murni karena pembatasan. Dia juga meminta, pemerintah mengambil kebijakan yang lebih keras terÂhadap pelaku penimbunan. “Ini masalah yang terus terulang, mereka harus diÂbikin kapok,†timÂpalnya.
Vice President Corporate CoÂmunication PT Pertamina (PerÂsero) Ali Mundakir mengaku suÂdah mengetahui ada kelangÂkaan solar. “Kami sudah meÂngeÂtahui, tetapi berdaÂsarkan laÂporan dari seÂjumlah daeÂrah, antrian masih daÂlam batas yang wajar,†kata Ali.
Namun demikian, Ali meneÂgasÂkan pihaknya pasti akan mengambil tindakan. Seperti meÂnambah pasokan bila kondisi di lapangan tidak normal.
Menurutnya, kelangkaan buÂkan disebabkan karena keterlamÂbatan pengiriman atau karena stok yang menipis. Tetapi murni karena tingginya permintaan.
Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat (DPP Organda) Andryansah mengeluhkan langÂkanya solar di beberapa daerah.
“Proses distribusi barang antar daeÂrah terganggu, pengusaha angÂkutan tentu alami kerugian atas terlambatnya pengiriman BBM tersebut,†ujar dia.
Andryansah mendesak pemeÂrinÂtah agar bisa menjamin paÂsokan solar. Diingatkannya, bila pengiÂriman barang terhambat maka yang rugi bukan hanya penguÂsaha angkutan, tetapi juga maÂsyarakat.
Selain masalah kelangkaan, penyaluran BBM bersubsidi juga dihadapkan praktik penggeÂlapan. Hal tersebut bisa dilihat dari terÂungÂkapnya kaÂsus penyeluÂduÂpan 1 juta liter BBM oleh kepoÂlisian di Papua, tiga hari lalu.
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Andy Noorsaman Someng menilai, pengelapan BBM masih terjadi karena disparitas harga antara BBM subsidi dengan non subsidi yang terlampau jauh. Tak hanya itu, hukuman kepada pelaku peÂnyalagunaan BBM tidak memunÂculkan efek jera. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: