Menteri Hidayat Pusing Mikirin Pasokan Gas Industri Dalam Negeri

Produsen Asing Ogah Jual Gas Di Bawah Harga Pasar

Sabtu, 23 Maret 2013, 08:08 WIB
Menteri Hidayat Pusing Mikirin Pasokan Gas Industri Dalam Negeri
ilustrasi, Gas
rmol news logo .Kementerian Perindustrian (Kemenperin) masih kesulitan memperoleh pasokan gas untuk industri dalam negeri. Alasannya, para produsen tidak mau menjual dengan harga subsidi.

Menteri Perindustrian (Men­perin) MS Hidayat mengatakan, industri dalam negeri sangat sulit memperoleh pasokan gas, misal­nya industri pupuk. Menurut dia, banyak produsen gas yang tidak mau menjual gasnya ke industri. Alasannya, mereka tidak mau menjual dengan harga di bawah keekonomian atau harga pasar.

“Kalau industri mau beli gas dengan harga di bawah keeko­no­mian, susah dapatkan gasnya. Tapi kalau kita bilang beli dengan harga keekonomian tiba-tiba pa­sokan gas itu ada,” kata Hidayat saat membuka workshop di Bandung, kemarin.

Apalagi, kata dia, saat ini pro­dusen gas kebanyakan investor asing sehingga mau menjualnya sesuai dengan harga keekono­mian. Pemerintah sendiri tidak bisa memaksa mereka untuk memberi diskon atau subsidi untuk jual gasnya ke industri.
“Itu kan strategi pengusaha saja yang tidak mau rugi. Saya paham itu, karena saya bekas pengusaha juga,” cetusnya.

Bakas Ketua Umum Kamar Da­gang dan Industri (Kadin) itu mengaku pernah menyampaikan saran kepada Wakil Presiden (Wapres) Boediono agar subsidi pembelian gas dialihkan menjadi subsidi langsung petani. “Saat ini biarkan industri se­perti pupuk beli gas dengan harga keeko­nomian tetapi pasokannya aman. Sedang­kan subsidinya dialihkan langsung kepada petani,” paparnya.

Namun, dia mengakui pem­berian subsidi langsung kepada petani sangat sulit dilaku­kan. Salah satunya adalah kesu­litan mendefinisikan petani yang berhak memproleh subsidi pupuk tersebut. Jangan sampai yang menerima itu adalah petani yang tidak berhak.

Hidayat berharap, ke depan tidak ada lagi kekurangan paso­kan gas untuk industri dan harga­nya terjangkau. Apalagi Indo­nesia merupakan salah satu negara produsen gas.
Dirjen Basis Industri Manu­faktur Kemenperin Panggah Su­santo mengaku saat ini kebutuhan gas industri mencapai 2.130 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD/Million Stan­dard Cubic Feet per Day).

Menurut Panggah, pem­bangu­nan industri yang berdaya saing tinggi dan berkesinam­bungan bergantung pada dua fak­tor kunci, yakni ketersediaan bahan baku dan pasokan energi. Kedua faktor itu menentukan perkem­bangan industri.

Dia mengatakan, pemanfaatan gas bumi sebagai bahan baku industri dalam negeri juga sejalan dengan kebijakan pemerintah mendorong hilirisasi industri. Langkah ini diyakini mampu mendukung peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Direktur Utama PT Pertamina Gas (Pertagas) Gunung Sardjono Hadi menambahkan, ancaman krisis pasokan gas bakal menjalar ke industri di Jawa. Tahun ini, Pulau Jawa bakal mengalami de­fisit gas hingga 578 juta MMSCFD.

Penyebabnya, kata dia, pasokan gas dari hulu berkurang dan infrastruktur jaringan pipa gas untuk industri belum tersedia. Persoalan makin rumit, krisis ini akan bertahan lebih lama. [Harian Rakyat Merdeka]



Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA