Matinya radar Bandara Soekarno Hatta, tidak bisa disepelekan. Dua pesawat Lion Air nyaris tabrakan. Direksi PT Angkasa Pura (AP) II mesti ditegur. Kalau perlu dicopot saja.
Matinya radar pemandu jalur penerbangan di Bandara SoeÂkarÂno-Hatta Minggu (16/12) yang meÂnyebabkan sejumlah pener�"baÂngan terganggu disesali banyak pihak. Akibat kejadian ini, ratusÂan nyawa nyaris melayang akiÂbat terÂgangÂguÂÂnya jadwal penerÂbaÂngan. KaÂrena itu, muncul usuÂlan agar Dirut PT AP II Tri S Su noko diÂcopot dari jabatannya.
Anggota Komisi V DPR biÂdang perÂhubungan Marwan Ja’far mengatakan, puluhan pesawat bisa mengalami kecelakaan haÂnya karena listrik bandara udara mati beberapa saat. Potensi keÂcelakaan tinggi, karena ketika lisÂtrik mati, komunikasi pilot deÂngan pihak bandara terputus.
Karena itu, Ketua Fraksi PKB ini mengimbau PLN untuk tidak main-main dengan listrik banÂdara. Menurut Marwan, PLN seÂharusnya menyediakan tenaga cadangan untuk pasokan listrik obyek-obyek vital. Bandara udaÂra harus menjadi priÂoriÂtas karena berkaitan deÂngan keÂselamatan raÂtusan orang dari berbagai negara.
“Listrik di banÂdara itu sangat vital,†ujar Marwan keÂpada RakÂyat Merdeka, keÂmarin.
Ketika dikonfirmasi, Corporate Secretary PT Angkasa Pura II (Persero) Trisno Heryadi sudah meminta maaf akibat gangguan radar di Bandara Soekarno-Hatta. Menurutnya, kerusakan sistem radar itu karena perangkat UPS (Uninterruptible Power Supply) yang mendukung pasokan energi listrik ke perangkat komputer penÂdukung kerja pemanduan peÂsawat terbakar. Peristiwa terjadi sekitar pada pukul 16.55 WIB, Minggu (16/12).
“Terbakarnya perangkat UPS itu mengakibatkan gangÂguan pada sistem pemanduan otomatis JAATS (Jakarta AutoÂmated Air Traffic System) dan membuat sisÂtem tidak dapat beÂkerja selama 15 menit,†beber Trisno.
Hingga kini, masih dilakukan inÂvestigasi untuk menelusuri peÂnyebab rusaknya UPS. InvestiÂgasi dipandang perlu mengingat saat ini sebenarnya AP II telah menggunakan UPS Cyberex seÂbagai transisi dengan UPS baru yang akan didatangkan pada perÂtengahan Januari 2012. UPS terÂsebut diproduksi di Jerman.
Seringnya radar bandara SoeÂkarno-Hatta mengalami gangÂguan, membuat Kementerian PerÂhubungan (Kemenhub) meÂnuÂrunkan tim khusus untuk meÂngÂinvestigasi penyebab kaÂcauÂnya radar bandara tersebut.
“DiÂrekÂtorat navigasi dari KeÂmenÂÂhub langsung turun ke banÂdara untuk melakukan koordinaÂsi peÂnangÂanan dan menyelidiki meÂngÂapa bisa terjadi,†kata KaÂpusÂkom Publik Kemenhub BamÂbang S Ervan, kemarin.
Kemenhub akan melihat baÂgaimana perawatan UPS yang seharusnya berfungsi saat aliran listrik ke radar padam. Hal itu penÂÂÂting untuk melihat apakah UPS tersebut benar-benar dirawat secara berkala, karena menyangÂkut keselamatan penerbangan.
Menurut Menteri BUMN DahÂlan Iskan, kejadian tersebut tak terkait pasokan listrik PLN. “Itu bukan salah PLN,†ujarÂnya keÂpada wartawan, kemarin.
Matinya radar Bandara SoeÂkarno-Hatta disebabkan karena terbakarnya UPS sejak pukul 16.55 WIB. Akibatnya, sebanyak 64 peÂnerbangan tertunda. Baru pukul 19.30 WIB penerbangan normal kembali.
Manager Senior Komunikasi Korporat PT PLN Bambang DwiÂyanto menilai, matinya listrik buÂkan kesalahan pasokan PLN. MeÂnurutnya, persoalan matinya listrik di Bandara Soekarno Hatta Tangerang Banten merupakan persoalan internal bandara.
“PaÂsokan listrik PLN ke BanÂdara SoÂetÂta aman,†tukas BamÂbang keÂpada Rakyat MerÂdeka.
Nyaris Tabrakan
Terbakarnya UPS di Bandara Soekarno Hatta juga nyaris meÂnyebabkan bencana penerbangÂan. “Hampir terjadi persingguÂngan (tabrakan) antara dua pesaÂwat, Lion dengan Lion. Lion keÂmuÂdian return to base (kembali ke bandara seÂmula),†kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Istana Negara, kemarin.
Sementara Direktur Umum Lion Air EdÂward Sirait belum menÂÂdapat laporan soal dua pesaÂwat yang nyaris bertabrakan itu. “BiÂasaÂnya pilot langsung lapoÂran ke maÂnajemen. Itu rahasia Tower Air Traffic Control (TAÂC),†kata Edward. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: