Produksi Minyak Turun Alasan BP Migas Klise

Saat Ini Produksi Minyak Indonesia Rata-rata Cuma 800 Ribu Bph

Kamis, 18 Oktober 2012, 08:05 WIB
Produksi Minyak Turun Alasan BP Migas Klise
ilustrasi/ist
Kecil Besar
RMOL.Target produksi minyak Indonesia tahun ini kembali tidak tercapai. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) memprediksi, produksi minyak hanya 870 ribu barel per hari (bph).

Capaian itu lebih rendah dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN) 2012 sebesar 930 ribu BPH. Angka ini juga turun 3,6 persen dari produksi tahun lalu yang mencapai 902 ribu bph.

Kepala BP Migas R Priyono me­ngatakan, penurunan produksi ini tidak bisa dihindari karena trendnya memang sedang turun. Saat ini, produksi minyak In­do­nesia rata-rata 800 ribu bph. Pa­dahal, produsi minyak pernah mencapai 1,6 juta bph.

“Puncak produksinya tahun 1997 dan 1995. Sedangkan perio­de penurunan berlangsung dimu­lai 1996 di mana BP Migas belum hadir di sana,” ujar Priyono saat rapat kerja dengan DPR, kemarin.

Menurut dia, realisasi produksi minyak rata-rata Indonesia pada September mencapai 868 ribu bph. Diperkirakan, realisasi yang sama juga dihasilkan pada Okto­ber, sedangkan November diper­kirakan produksi minyak bisa mencapai 869 ribu bph.

Namun, Priyono mengaku, jika pihaknya tidak melakukan tinda­kan apa-apa, maka produksi mi­nyak hingga akhir tahun hanya mencapai 659,4 ribu bph. De­ngan upaya keras, diharapkan 870 ribu bph dapat tercapai. Saat ini masih ada stok minyak men­tah 11 juta barel yang masih di­tahan. Dari jumlah itu, 5 juta ba­rel masih bisa dijual untuk me­nambah pene­ri­maan negara.

Priyono menjelaskan, penu­runan produksi ini disebabkan em­pat hal. Pertama, tidak kem­ba­linya produksi Chevron Pacific Indonesia (CPI) akibat pecahnya pipa TGI di Lapangan Duri sebe­sar 25 ribu bph. Kemudian, efek tertundanya keputusan operator baru, Kodeco/PHE di West Ma­dura Offshore (WMO) dan pe­nurunan di Lapangan Tunu dan Peciko, serta kerusakan pada fa­silitas produksi.

Dia menambahkan, produksi minyak akan terus mengalami penurunan jika tidak dite­mukan­nya lapangan besar baru untuk eksplorasi minyak. Begitu juga jika tidak ditemukannya tekno­logi baru, diperkirakan akan ter­jadi penurunan produksi mi­nyak 12-15 persen per tahun.

“Untuk men­capai target 1 juta bph, kita ma­sih mengharapkan proyek di Cepu,” tegasnya.

Kendati begitu, dia optimis pe­ne­rimaan negara dari sektor hu­­lu migas sebesar Rp 33,5 mi­liar bisa tercapai. Menurutnya, pe­riode Ja­nuari hingga Septem­ber pe­ne­rimaan sudah mencapai 81 per­sen atau 27,1 miliar dolar AS atau Rp 243,9 triliun.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengata­kan, tidak tercapainya target lif­ting minyak merupakan kega­galan BP Migas mengatur sektor hulu. Apalagi tidak tercapainya pro­duksi minyak ini masalah da­ri tahun ke tahun. “Alasan yang di­sampaikan klise dan berulang-ulang,” kata Mamit.

 Karena itu, Mamit meminta pe­merintah dan BP Migas terus mendorong masuknya investasi di sektor migas. Dengan ba­nyak­­nya investasi di bidang eksplo­rasi dan eksploitasi akan me­nam­bah stok minyak nasional.

“Jika tidak ada langkah kon­kret, maka nilai impor migas In­donesia akan terus naik seiring kenaikan konsumsi yang saat ini sudah tembus 1,4 juta bph. Se­cara oto­matis subsidi juga akan naik,” jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA