Capaian itu lebih rendah dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN) 2012 sebesar 930 ribu BPH. Angka ini juga turun 3,6 persen dari produksi tahun lalu yang mencapai 902 ribu bph.
Kepala BP Migas R Priyono meÂngatakan, penurunan produksi ini tidak bisa dihindari karena trendnya memang sedang turun. Saat ini, produksi minyak InÂdoÂnesia rata-rata 800 ribu bph. PaÂdahal, produsi minyak pernah mencapai 1,6 juta bph.
“Puncak produksinya tahun 1997 dan 1995. Sedangkan perioÂde penurunan berlangsung dimuÂlai 1996 di mana BP Migas belum hadir di sana,†ujar Priyono saat rapat kerja dengan DPR, kemarin.
Menurut dia, realisasi produksi minyak rata-rata Indonesia pada September mencapai 868 ribu bph. Diperkirakan, realisasi yang sama juga dihasilkan pada OktoÂber, sedangkan November diperÂkirakan produksi minyak bisa mencapai 869 ribu bph.
Namun, Priyono mengaku, jika pihaknya tidak melakukan tindaÂkan apa-apa, maka produksi miÂnyak hingga akhir tahun hanya mencapai 659,4 ribu bph. DeÂngan upaya keras, diharapkan 870 ribu bph dapat tercapai. Saat ini masih ada stok minyak menÂtah 11 juta barel yang masih diÂtahan. Dari jumlah itu, 5 juta baÂrel masih bisa dijual untuk meÂnambah peneÂriÂmaan negara.
Priyono menjelaskan, penuÂrunan produksi ini disebabkan emÂpat hal. Pertama, tidak kemÂbaÂlinya produksi Chevron Pacific Indonesia (CPI) akibat pecahnya pipa TGI di Lapangan Duri sebeÂsar 25 ribu bph. Kemudian, efek tertundanya keputusan operator baru, Kodeco/PHE di West MaÂdura Offshore (WMO) dan peÂnurunan di Lapangan Tunu dan Peciko, serta kerusakan pada faÂsilitas produksi.
Dia menambahkan, produksi minyak akan terus mengalami penurunan jika tidak diteÂmukanÂnya lapangan besar baru untuk eksplorasi minyak. Begitu juga jika tidak ditemukannya teknoÂlogi baru, diperkirakan akan terÂjadi penurunan produksi miÂnyak 12-15 persen per tahun.
“Untuk menÂcapai target 1 juta bph, kita maÂsih mengharapkan proyek di Cepu,†tegasnya.
Kendati begitu, dia optimis peÂneÂrimaan negara dari sektor huÂÂlu migas sebesar Rp 33,5 miÂliar bisa tercapai. Menurutnya, peÂriode JaÂnuari hingga SeptemÂber peÂneÂrimaan sudah mencapai 81 perÂsen atau 27,1 miliar dolar AS atau Rp 243,9 triliun.
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengataÂkan, tidak tercapainya target lifÂting minyak merupakan kegaÂgalan BP Migas mengatur sektor hulu. Apalagi tidak tercapainya proÂduksi minyak ini masalah daÂri tahun ke tahun. “Alasan yang diÂsampaikan klise dan berulang-ulang,†kata Mamit.
Karena itu, Mamit meminta peÂmerintah dan BP Migas terus mendorong masuknya investasi di sektor migas. Dengan baÂnyakÂÂnya investasi di bidang eksploÂrasi dan eksploitasi akan meÂnamÂbah stok minyak nasional.
“Jika tidak ada langkah konÂkret, maka nilai impor migas InÂdonesia akan terus naik seiring kenaikan konsumsi yang saat ini sudah tembus 1,4 juta bph. SeÂcara otoÂmatis subsidi juga akan naik,†jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: