Penyaluran Minim, Dana FLPP Rawan Penyimpangan

Program Perumahan Perlu Dievaluasi

Kamis, 04 Oktober 2012, 08:54 WIB
Penyaluran Minim, Dana FLPP Rawan Penyimpangan
ilustrasi, Perumahan
Kecil Besar

rmol news logo Dana subsidi perumahan juga didu­ga rawan penyimpangan. Di­sa­ran­kan, kinerja Menpera dieva­lua­si. De­sakan evaluasi ini sebagai upaya untuk menekan angka back­log rumah yang setiap tahun terus bertambah. Hal itu dikatakan Ke­tua Umum Asosiasi Pengem­bang Pe­rumahan dan Permukiman Se­luruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo di Jakarta, kemarin.

“Saya kira perlu ada evaluasi di tubuh Kemenpera, agar prog­ram perumahan bisa berjalan tepat sa­saran. Soalnya, dari se­kian prog­ram lanjutan dari men­teri sebe­lum­nya, belum satu pun yang direa­li­sasikan. Semua prog­ram malah direvisi ulang, termasuk penya­lur­an FLPP yang sulit meme­nuhi tar­get ta­hun ini,” jelas Eddy.

Dia menilai, penyerapan sub­sidi rumah melalui FLPP sulit me­­­­menuhi target pemerintah se­besar 133.000 unit pada tahun ini. Apalagi, sisa waktu hingga ak­hir tahun tinggal tiga bulan lagi.

“Untuk pencapaian target ti­dak akan lebih dari 50.000 unit ru­mah,” kata Eddy.

Menurut dia, Kemenpera perlu melakukan terobosan untuk men­dongkrak penyerapan FLPP dan membantu masyarakat, pengem­bang maupun bank pelaksana de­ngan mengizinkan FLPP untuk tipe di bawah 36 meter persegi (m2), bukan tipe 36 saja.

Saat ini, kata Eddy, penyerapan FLPP baru mencapai 20.000 le­bih. Hal itu dikarenakan kebi­jakan pemerintah tidak pro rak­yat. Mas­yarakat Berpenghasilan Ren­dah (MBR) dipaksa untuk mem­beli rumah tipe 36. Padahal, daya beli masyarakat masih minim.

Untuk itu, Apersi fokus meng­garap rumah di bawah 36 tanpa FLPP. Langkah itu dilakukan un­tuk mempercepat penyerapan rumah di bawah tipe 36 sebanyak 60 ribu unit pada 2012.

“Saat ini, ada sekitar 138 ribu stok rumah di bawah tipe 36 yang belum terjual. Diharapkan, ke­bijakan FLPP di bawah 36 bisa diberikan. Dengan begitu angka backlog rumah bisa ditekan secara bertahap,” ujar Eddy.

Anggota  Komisi V DPR bi­dang Perumahan Yoseph Umar­hadi  mengatakan, keberpihakan pemerintah dalam menyediakan tempat tinggal bagi MBR masih minim. Itu terlihat dari rendah­nya penyerapan anggaran tahun ini dan rendahnya political will Pe­merintah Daerah (Pemda) un­tuk merumahkan rakyat.

“Penyerapan anggaran tahun ini sangat rendah dan perlu ada evaluasi terhadap program pe­rumahan agar penyerapan bisa tepat sasaran,” tegasnya.

Anggota komisi V DPR Ris­wan Tony menambahkan, pe­merintah juga harus menjelaskan kemana penyaluran bunga FLPP selama ini. Selain itu, Djan juga diminta mengurangi pelesiran ke daerah-daerah, yang hanya se­kadar meneken Memorandum of Understanding (MOU) sana-sini tanpa ada realisasi yang jelas.

“Kami sudah mempertanyakan berkali-kali masalah bunga dana subsidi FLPP di 2011 ke pe­me­rintah, tetapi hingga kini belum ada laporan penyaluran bunga tersebut.  Anggaran sub­si­di ru­mah rawan penyimpangan, ka­rena itu menggunakan Ang­garan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” jelas Riswan.

Wakil Ketua Komisi V DPR Mu­hidin Mohammad Said me­nya­rankan, pemerintah mem­ba­ngun koordinasi yang baik an­tara pengembang dan per­bankan da­lam penyaluran FLPP.

Target FLPP Yakin Dicapai

Menanggapi itu, Menteri Peru­mahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz justru optimistis target FLPP bisa tercapai tahun ini.

“Realisasi FLPP baru men­ca­pai 20 persen. Ini lantaran per­setujuan bebas Pajak Per­tam­ba­han Nilai (PPN) baru ke­luar pada Agustus dan baru di­mulai Sep­tember,” kilah Djan.

Deputi Bidang Pembiayaan Ke­menpera Sri Hartoyo menga­takan, pada Agustus, penya­luran FLPP baru mencapai 21.857 unit dari tar­get 133.000 unit rumah.

Sebanyak 21.833 unit rumah disalurkan oleh BTN. Sebanyak 24 unit sisanya disalurkan oleh Bank Mandiri, BNI, BRI, serta Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Berdasarkan hasil survei pro­perti residensial Bank Indonesia (BI­) menunjukkan bahwa pe­manfaatan Kredit Pemilikan Ru­mah (KPR) FLPP untuk MBR masih berjalan lambat. Pencairan FLPP hingga triwulan II-2012 di­ketahui baru sekitar 5,62 persen dari total dana yang ditargetkan sepanjang 2012 sebesar Rp 7,10 tri­liun. Dengan demikian, masih terdapat 94,38 persen dana yang belum dimanfaatkan oleh MBR. Namun hingga Agustus diklaim sudah mencapai 15 persen.

“Kami akan terus menggenjot pe­nyerapan dana FLPP pada ku­artal IV-2012. Apalagi yang baru terse­rap hanya sekitar 15 persen dari target yang dite­tapkan,” janji Sri.

Sri berharap, penyerapan FLPP dapat meningkat secara signi­fi­kan pada akhir tahun ini. “Di­harapkan, pasokan rumah me­­ningkat dan permintaan KPR ju­ga naik, bukan hanya untuk pe­rumahan tipe mewah, tetapi juga untuk unit rumah MBR,” harap Sri. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA