Dana subsidi perumahan juga diduÂga rawan penyimpangan. DiÂsaÂranÂkan, kinerja Menpera dievaÂluaÂsi. DeÂsakan evaluasi ini sebagai upaya untuk menekan angka backÂlog rumah yang setiap tahun terus bertambah. Hal itu dikatakan KeÂtua Umum Asosiasi PengemÂbang PeÂrumahan dan Permukiman SeÂluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo di Jakarta, kemarin.
“Saya kira perlu ada evaluasi di tubuh Kemenpera, agar progÂram perumahan bisa berjalan tepat saÂsaran. Soalnya, dari seÂkian progÂram lanjutan dari menÂteri sebeÂlumÂnya, belum satu pun yang direaÂliÂsasikan. Semua progÂram malah direvisi ulang, termasuk penyaÂlurÂan FLPP yang sulit memeÂnuhi tarÂget taÂhun ini,†jelas Eddy.
Dia menilai, penyerapan subÂsidi rumah melalui FLPP sulit meÂÂÂÂmenuhi target pemerintah seÂbesar 133.000 unit pada tahun ini. Apalagi, sisa waktu hingga akÂhir tahun tinggal tiga bulan lagi.
“Untuk pencapaian target tiÂdak akan lebih dari 50.000 unit ruÂmah,†kata Eddy.
Menurut dia, Kemenpera perlu melakukan terobosan untuk menÂdongkrak penyerapan FLPP dan membantu masyarakat, pengemÂbang maupun bank pelaksana deÂngan mengizinkan FLPP untuk tipe di bawah 36 meter persegi (m2), bukan tipe 36 saja.
Saat ini, kata Eddy, penyerapan FLPP baru mencapai 20.000 leÂbih. Hal itu dikarenakan kebiÂjakan pemerintah tidak pro rakÂyat. MasÂyarakat Berpenghasilan RenÂdah (MBR) dipaksa untuk memÂbeli rumah tipe 36. Padahal, daya beli masyarakat masih minim.
Untuk itu, Apersi fokus mengÂgarap rumah di bawah 36 tanpa FLPP. Langkah itu dilakukan unÂtuk mempercepat penyerapan rumah di bawah tipe 36 sebanyak 60 ribu unit pada 2012.
“Saat ini, ada sekitar 138 ribu stok rumah di bawah tipe 36 yang belum terjual. Diharapkan, keÂbijakan FLPP di bawah 36 bisa diberikan. Dengan begitu angka backlog rumah bisa ditekan secara bertahap,†ujar Eddy.
Anggota Komisi V DPR biÂdang Perumahan Yoseph UmarÂhadi mengatakan, keberpihakan pemerintah dalam menyediakan tempat tinggal bagi MBR masih minim. Itu terlihat dari rendahÂnya penyerapan anggaran tahun ini dan rendahnya political will PeÂmerintah Daerah (Pemda) unÂtuk merumahkan rakyat.
“Penyerapan anggaran tahun ini sangat rendah dan perlu ada evaluasi terhadap program peÂrumahan agar penyerapan bisa tepat sasaran,†tegasnya.
Anggota komisi V DPR RisÂwan Tony menambahkan, peÂmerintah juga harus menjelaskan kemana penyaluran bunga FLPP selama ini. Selain itu, Djan juga diminta mengurangi pelesiran ke daerah-daerah, yang hanya seÂkadar meneken Memorandum of Understanding (MOU) sana-sini tanpa ada realisasi yang jelas.
“Kami sudah mempertanyakan berkali-kali masalah bunga dana subsidi FLPP di 2011 ke peÂmeÂrintah, tetapi hingga kini belum ada laporan penyaluran bunga tersebut. Anggaran subÂsiÂdi ruÂmah rawan penyimpangan, kaÂrena itu menggunakan AngÂgaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),†jelas Riswan.
Wakil Ketua Komisi V DPR MuÂhidin Mohammad Said meÂnyaÂrankan, pemerintah memÂbaÂngun koordinasi yang baik anÂtara pengembang dan perÂbankan daÂlam penyaluran FLPP.
Menanggapi itu, Menteri PeruÂmahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz justru optimistis target FLPP bisa tercapai tahun ini.
“Realisasi FLPP baru menÂcaÂpai 20 persen. Ini lantaran perÂsetujuan bebas Pajak PerÂtamÂbaÂhan Nilai (PPN) baru keÂluar pada Agustus dan baru diÂmulai SepÂtember,†kilah Djan.
Deputi Bidang Pembiayaan KeÂmenpera Sri Hartoyo mengaÂtakan, pada Agustus, penyaÂluran FLPP baru mencapai 21.857 unit dari tarÂget 133.000 unit rumah.
Sebanyak 21.833 unit rumah disalurkan oleh BTN. Sebanyak 24 unit sisanya disalurkan oleh Bank Mandiri, BNI, BRI, serta Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Berdasarkan hasil survei proÂperti residensial Bank Indonesia (BIÂ) menunjukkan bahwa peÂmanfaatan Kredit Pemilikan RuÂmah (KPR) FLPP untuk MBR masih berjalan lambat. Pencairan FLPP hingga triwulan II-2012 diÂketahui baru sekitar 5,62 persen dari total dana yang ditargetkan sepanjang 2012 sebesar Rp 7,10 triÂliun. Dengan demikian, masih terdapat 94,38 persen dana yang belum dimanfaatkan oleh MBR. Namun hingga Agustus diklaim sudah mencapai 15 persen.
“Kami akan terus menggenjot peÂnyerapan dana FLPP pada kuÂartal IV-2012. Apalagi yang baru terseÂrap hanya sekitar 15 persen dari target yang diteÂtapkan,†janji Sri.
Sri berharap, penyerapan FLPP dapat meningkat secara signiÂfiÂkan pada akhir tahun ini. “DiÂharapkan, pasokan rumah meÂÂningkat dan permintaan KPR juÂga naik, bukan hanya untuk peÂrumahan tipe mewah, tetapi juga untuk unit rumah MBR,†harap Sri. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: