.Produksi batubara dalam negeri terus melorot gara-gara harganya yang semakin merosot. Penerimaan negara pun terancam.
Perlambatan ekonomi ChiÂna dan Eropa menekan sektor baÂtubara Indonesia dan memaksa produsen untuk menurunkan proÂduksi serta memangkas beÂban kaÂrenanya berkurangnya perÂminÂtaÂan. Target produksi baÂtubara naÂsional sebesar 382 juta ton sulit dicapai.
Berdasarkan Data KementeÂrian Energi dan Sumber Daya MiÂneral (ESDM), realisasi produksi batubara semester I 2012 sebesar 184 juta ton. Sedangkan ekspor baÂtubara nasional semester I-2012 turun 19 persen menjadi 137 juta ton. Total ekspor itu setara 74,4 persen dari produksi batubara nasional 184 juta ton. Tujuan ekspornya masih ke China, InÂdia, Korea Selatan dan Jepang.
Selain itu, volume penjualan doÂmestik juga turun 10 persen menÂjadi 45 juta ton menyusul keterÂlambatan pengoperasian pemÂbangkit listrik tenaga uap proyek 10 ribu megawatt tahap I PLN.
Padahal, pemerintah menarÂgetÂkan penerimaan negara bukan paÂjak (PNBP) dari sektor perÂtamÂbangan sebesar Rp 27,3 triÂliun seÂsuai dengan Anggaran PenÂdaÂpatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2012.
Hal itu diakui pemerintah. WaÂkil Menteri ESDM Rudi RuÂbianÂdini mengatakan, rendahnya harÂga batubara di pasar interÂnaÂsioÂnal membuat ekspor melamÂbat. NaÂmun, pemeÂrintah tak akan mengÂintervensi pasar.
“Ekspor batubara akan terÂbatasi dengan sendirinya karena harga murah. Pemerintah tidak perÂlu ikut campur karena ini benar-beÂnar urusan bisnis saja,†katanya.
Meskipun harga turun, pemeÂrintah masih optimistis peÂnuruÂnannya tidak akan berÂpeÂngaruh banyak terhadap penÂdapatan neÂgara. Sebab, penÂdaÂpatan dari batubara tidak sebesar pendaÂpatan dari migas yang jumlahnya sampai ratusan triliun.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Thamrin Sihite mengÂimÂbau semua pihak waspada pada harga batubara tahun depan. Jika permintaan ekspor terus turun paÂda 2013, ada kemungÂkinan harga batubara akan seÂmakin rendah.
“Walaupun flukÂtuatifnya harÂga batubara meruÂpakan hal biaÂsa, seÂmua stakeholÂder harus wasÂpada untuk setiap kemungÂkinan. Harus ada action untuk benahi ini,†kata Thamrin.
Thamrin menambahkan, ada kemungkinan pasar batubara ke depan digeser ke pasar domestik, karena melihat kebutuhan dalam negeri untuk memenuhi sejumlah sektor seperti sektor kelistrikan.
“Hingga saat ini porsi batuÂbaÂra yang didistribusikan ke pasar domestik baru 25 persen,†ungÂkap Thamrin.
Ketua Asosiasi Pemasok BatuÂbara Indonesia (Apebindo) Ferry Juliantono mengatakan, penuruÂnan produksi, harga dan perminÂtaan ekspor batubara harus disiÂkapi serius pemerintah. Apalagi penurunan harga masih akan tetap berlangsung hingga tahun depan.
Kondisi ini akan membuat baÂÂnyak pengusaha batubara daÂlam negeri gulung tikar gara-gara tiÂdak bisa menutup biaya proÂduksi.
“Perusahaan-perusahaan besar saja sudah mengurangi produkÂsinya, sedangkan yang kecil-keÂcil sudah gulung tikar,†curhatÂnya kepada Rakyat Merdeka.
Karena itu, dia minta di saat konÂÂdisi yang kurang bagus ini peÂmeÂrintah tak mengeluarkan keÂbiÂjaÂkan yang menambah beban peÂngusaha batubara. Misalnya, terÂkait usulan pengenaan kuota eksÂpor batubara dan pajak ekspornya.
Ketua Presidium Masyarakat Pertambangan Indonesia (MPI) Herman Afif Kusumo mengaÂtakan, kondisi sekarang harus diÂmanfaatkan pemerintah untuk menata ulang ekspor batubara.
“Ekspor kita sebelumnya meÂleÂbihi dari permintaan. Sekarang saatnya untuk menata kembali ekÂspor agar tidak over lagi,†ujarnya.
Menurut Herman, laju pertumÂbuhan ekspor batubara sangat tinggi. Alhasil, harganya juga ikut menurun. Aturan pemeÂrinÂtah saat ini juga menambah beÂban penguÂsaha disaat perminÂtaan dunia untuk batubara dan mineral lesu.
Dirjen Perdagangan Luar NeÂgeri Kementerian PerdaÂgangan Deddy Saleh menilai, pemÂbaÂtaÂsan ekspor batubara sulit diÂlaÂkukan. “Itu kan agak sulit untuk industri hilirnya. Untuk jadi gas, briket atau yang lain kita belum banyak mengembangkan itu,†ujar Deddy. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: