Produksi Batubara Anjlok Pengusaha Gulung Tikar

Waspadai Ekspor Batubara Terus Turun, Harga Semakin Rendah

Senin, 01 Oktober 2012, 08:05 WIB
Produksi Batubara Anjlok Pengusaha Gulung Tikar
ilustrasi, Batubara
Kecil Besar
rmol news logo .Produksi batubara dalam negeri terus melorot gara-gara harganya yang semakin merosot. Penerimaan negara pun terancam.

Perlambatan ekonomi Chi­na dan Eropa menekan sektor ba­tubara Indonesia dan memaksa produsen untuk menurunkan pro­duksi serta memangkas be­ban ka­renanya berkurangnya per­min­ta­an. Target produksi ba­tubara na­sional sebesar 382 juta ton sulit dicapai.

Berdasarkan Data Kemente­rian Energi dan Sumber Daya Mi­neral (ESDM), realisasi produksi batubara semester I 2012 sebesar 184 juta ton. Sedangkan ekspor ba­tubara nasional semester I-2012 turun 19 persen menjadi 137 juta ton. Total ekspor itu setara 74,4 persen dari produksi batubara nasional 184 juta ton. Tujuan ekspornya masih ke China, In­dia, Korea Selatan dan Jepang.

Selain itu, volume penjualan do­mestik juga turun 10 persen men­jadi 45 juta ton menyusul keter­lambatan pengoperasian pem­bangkit listrik tenaga uap proyek 10 ribu megawatt tahap I PLN.

Padahal, pemerintah menar­get­kan penerimaan negara bukan pa­jak (PNBP) dari sektor per­tam­bangan sebesar Rp 27,3 tri­liun se­suai dengan Anggaran Pen­da­patan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2012.

Hal itu diakui pemerintah. Wa­kil Menteri ESDM Rudi Ru­bian­dini mengatakan, rendahnya har­ga batubara di pasar inter­na­sio­nal membuat ekspor melam­bat. Na­mun, peme­rintah tak akan meng­intervensi pasar.

“Ekspor batubara akan ter­batasi dengan sendirinya karena harga murah. Pemerintah tidak per­lu ikut campur karena ini benar-be­nar urusan bisnis saja,” katanya.

Meskipun harga turun, peme­rintah masih optimistis pe­nuru­nannya tidak akan ber­pe­ngaruh banyak terhadap pen­dapatan ne­gara. Sebab, pen­da­patan dari batubara tidak sebesar penda­patan dari migas yang jumlahnya sampai ratusan triliun.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Thamrin Sihite meng­im­bau semua pihak waspada pada harga batubara tahun depan. Jika permintaan ekspor terus turun pa­da 2013, ada kemung­kinan harga batubara akan se­makin rendah.

“Walaupun fluk­tuatifnya har­ga batubara meru­pakan hal bia­sa, se­mua stakehol­der harus was­pada untuk setiap kemung­kinan. Harus ada action untuk benahi ini,” kata Thamrin.

Thamrin menambahkan, ada kemungkinan pasar batubara ke depan digeser ke pasar domestik, karena melihat kebutuhan dalam negeri untuk memenuhi sejumlah sektor seperti sektor kelistrikan.

“Hingga saat ini porsi batu­ba­ra yang didistribusikan ke pasar domestik baru 25 persen,” ung­kap Thamrin.

Ketua Asosiasi Pemasok Batu­bara Indonesia (Apebindo) Ferry Juliantono mengatakan, penuru­nan produksi, harga dan permin­taan ekspor batubara harus disi­kapi serius pemerintah. Apalagi penurunan harga masih akan tetap berlangsung hingga tahun depan.

Kondisi ini akan membuat ba­­nyak pengusaha batubara da­lam negeri gulung tikar gara-gara ti­dak bisa menutup biaya pro­duksi.

“Perusahaan-perusahaan besar saja sudah mengurangi produk­sinya, sedangkan yang kecil-ke­cil sudah gulung tikar,” curhat­nya kepada Rakyat Merdeka.

Karena itu, dia minta di saat kon­­disi yang kurang bagus ini pe­me­rintah tak mengeluarkan ke­bi­ja­kan yang menambah beban pe­ngusaha batubara. Misalnya, ter­kait usulan pengenaan kuota eks­por batubara dan pajak ekspornya.

Ketua Presidium Masyarakat Pertambangan Indonesia (MPI) Herman Afif Kusumo menga­takan, kondisi sekarang harus di­manfaatkan pemerintah untuk menata ulang ekspor batubara.

“Ekspor kita sebelumnya me­le­bihi dari permintaan. Sekarang saatnya untuk menata kembali ek­spor agar tidak over lagi,” ujarnya.

Menurut Herman, laju pertum­buhan ekspor batubara sangat tinggi. Alhasil, harganya juga ikut menurun. Aturan peme­rin­tah saat ini juga menambah be­ban pengu­saha disaat permin­taan dunia untuk batubara dan mineral lesu.

Dirjen Perdagangan Luar Ne­geri Kementerian Perda­gangan Deddy Saleh menilai, pem­ba­ta­san ekspor batubara sulit di­la­kukan. “Itu kan agak sulit untuk industri hilirnya. Untuk jadi gas, briket atau yang lain kita belum banyak mengembangkan itu,” ujar Deddy. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA