Mau Naikkan Harga Gas Tangguh, Tim Renegosiasi Rayu China Dong

Harga Gas Domestik 5 Dolar AS Masih Lebih Mahal Dibanding Ekspor Tangguh

Minggu, 30 September 2012, 08:01 WIB
Mau Naikkan Harga Gas Tangguh, Tim Renegosiasi Rayu China Dong
ilustrasi, lng
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah Indonesia disarankan merayu China untuk secepatnya merenegosiasi harga jual gas alam cair (Liquefied Natural Gas/ LNG) dari kilang Tangguh. Sebab, nilai jual gas itu terlampau murah.

Pengamat perminyakan Kur­tubi mengatakan, harga jual gas Tangguh harus dinaikkan untuk meningkatkan penerimaan ne­ga­ra yang belakangan justru me­ngalami penurunan.

“Kenaikan harga jual itu wajib dilakukan pemerintah. Kalau Chi­­na tidak setuju, lebih baik eks­por gas itu dihentikan saja dan alih­kan untuk memenuhi kebu­tuhan do­mestik,” kata Kurtubi ke­pada Rak­yat Merdeka, kemarin.

Diakui, untuk mengam­bil lang­kah itu (menghentikan ekspor) memang ada konsekuen­sinya, pemerintah bisa dikenai denda wan prestasi. Na­mun, hal itu lebih baik dari­pada terus me­ngirimkan gas ke China dengan harga le­bih murah dibanding den­danya.

Namun, menurut Kurtubi, ma­sih ada celah hukum untuk me­la­kukan renegosiasi dengan China. Pasalnya, dalam salah satu klau­sul kontrak itu disebutkan, setelah lima tahun dari penan­datanga­nan kontrak bisa diperbaiki.

“Itu sebabnya tim negoisasi mesti merayu dan bisa meya­kin­kan pihak China bahwa kon­trak harga jual gas ini setiap lima ta­hun sekali boleh direne­goisasi,” ujarnya.

Menurut dia, harga jual gas tangguh harus mencapai kisaran 20 dolar AS per Million Metric British Thermal Units (MMBTU). Sayangnya pemerintah menjual­nya ke Negeri Tirai Bambu hanya 3,35 dolar AS per MMBTU.

Untuk harga segitu, kata Kur­tubi, masih jauh sekali dengan harga jual gas dari kilang Bon­tang, Kalimantan Timur yang di atas 15 dolar AS per MMBTU. Bahkan, dengan har­ga gas do­mestik yang hanya 5 dolar AS, harga jual gas Tangguh ke China masih lebih murah.

Jika tim renegoisasi berhasil mem­bujuk China menaikkan har­­ga, setidaknya setara dengan har­ga gas Bontang, pendapatan ne­gara diperkirakan akan ber­tam­bah lebih dari Rp 30 triliun per tahun.

“Buat apa kita ekspor gas ka­lau keuntungannya kecil. Bukan­nya lebih baik gas itu kita man­faatkan untuk memenuhi kebu­tuhan da­lam negeri,” jelasnya.

Anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha menegaskan, ke­ber­hasilan renegosiasi me­naik­kan harga gas Tangguh meru­pa­kan salah satu kunci naiknya pe­neri­maan negara dari sektor migas.

Anggota Badan Anggara (Bang­gar) DPR ini menjelaskan, harga harus dinaikkan seiring ditetap­kannya cost reco­very 2013 sebesar 15,54 miliar dolar AS. Tam­bahan penerimaan bisa berasal dari re­negosiasi kontrak-kontrak gas yang har­ganya masih me­mung­kinan un­tuk naik.

Direktur Jenderal Migas Ke­menterian ESDM Evita H Lego­wo menambahkan, pihaknya akan mencoba lagi untuk mela­kukan penjajakan terkait nego harga gas Tangguh. Menurut dia, meski masa berlaku Keppres untuk tim renegosiasi telah ber­akhir, namun tim renegosiasi itu bisa kembali ditugaskan.

Meski peluang bagi pemerin­tah untuk melakukan renegosiasi terbuka, namun langkah-lang­kah yang diambil haruslah tepat. Ko­mitmen-komitmen yang su­dah ada harus tetap dipegang an­tara pemerintah dan investor.

“Jangan sampai nanti investor di sektor migas akan hilang aki­bat tidak jelasnya kepastian hu­kum. Namun, kami berupaya se­mak­simal mungkin untuk men­dorong renegosiasi ini,” tuturnya.

Seperti diketahui, kontrak LNG Tangguh ke China diteken 6 September 2002 saat Presiden Megawati berkuasa, meski Pe­merintah China sebenarnya me­nolak untuk membeli gas dari Indonesia. Belakangan, Peme­rintah China melunakkan sikap­nya dan menerima pasokan LNG dari Tangguh yang dialokasikan untuk Provinsi Fujian. Volume gas yang dikapalkan ke Fujian sebanyak 2,4 juta ton per tahun.

Harga gas saat kontrak diteken sebesar 2,4 dolar AS per MMBTU. Harga menggunakan formula batas atas harga minyak mentah sesuai patokan Japan Cocktail Crude. Harga atas yang ditetapkan dipatok 24 dolar AS per barel. Artinya, meski harga minyak berada di atas 24 dolar AS per barel, perhitungan for­mula harga gas tetap tidak bisa lebih dari harga batas atas.

Dengan mekanisme ceiling price tersebut, harga LNG Tang­guh maksimal sebesar 3,35 dolar AS per MMBTU sesuai acuan harga minyak 38 dolar AS per barel, meski harga minyak men­tah kini sudah menembus di atas 100 dolar AS per barel. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.