Picu Pengoplosan, Rencana Kenaikan Bakal Tidak Mulus

Usulkan Harga Elpiji 12 Kg Naik, Pertamina Ngaku Rugi Rp 5 Triliun

Rabu, 26 September 2012, 08:05 WIB
Picu Pengoplosan, Rencana Kenaikan Bakal Tidak Mulus
ilustrasi, Elpiji 12 Kg
Kecil Besar
rmol news logo .PT Pertamina (Persero) kembali berteriak minta harga elpiji 12 kilogram (kg) dinaikkan tahun depan. Alasannya, BUMN minyak itu mengalami kerugian.

menurut Vice President Cor­porate Communication Perta­mina Ali Mundakir, elpiji 12 kg naik ka­rena Pertamina berpoten­si mengalami kerugian Rp 5 tri­liun tahun ini.

“Kerugian itu di­se­babkan har­ga jual elpiji ter­sebut tidak se­suai dengan keeko­nomian ka­rena ha­rus disubsidi oleh Per­tamina. Pa­dahal, elpiji jenis itu bu­kan ba­rang subsidi,” kata di Jakarta, kemarin.

Ali menjelaskan, saat ini har­ga keekonomian elpiji itu ber­ada di kisaran Rp 9.000 per kg dan har­­ganya terus mengala­mi peru­bahan. Sementara saat ini Per­ta­­mina dipaksa menjual­nya de­ngan harga Rp 5.850 perk kg.

“Itu tidak ditanggung pe­me­rintah karena bukan barang sub­sidi,” tegasnya.

Meski begitu, dia mengaku jumlah kerugian itu masih pro­yeksi dengan memperhitungkan kerugian tahun sebelumnya. Na­mun, Pertamina juga akan mem­perhatikan dampak sosial dari kenaikan harga elpiji 12 kg itu.

Ali mengatakan, sebenarnya un­tuk menaikkan elpiji 12 kg ti­dak perlu persetujuan peme­rin­tah ka­rena bukan barang sub­sidi yang diatur oleh Pera­turan Peme­rintah (PP). “Tapi kembali lagi, sebagai perusahaan negara Per­tamina mem­pertimbangkan dam­pak yang mun­cul dengan adanya ke­naikan elpiji ini,” tandasnya.

Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tu­lus Abadi menilai, menaikkan har­ga elpiji 12 kg memang hak Pertamina. Namun, perlu di­per­hatikan dampak dari ke­naikan itu.

Menurut Tulus, kenaikan itu akan mempertinggi jurang dis­pa­­ritas atau selisih harga elpiji 12 kg dengan 3 kg. Tingginya seli­sih harga tersebut akan mem­buka ruang terjadinya kegiatan peng­oplosan. Dampak lainnya, terjadi migrasi besar-besaran dari elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg.

Namun, jika pemerintah tetap ngotot menaikkan harga, yang ha­rus dilakukan adalah melaku­kan operasi pasar elpiji 3 kg dan me­netapkan sistem penjualan ter­tutup. “Tapi yang rugi Perta­mina dan pemerintah lagi,” jelasnya.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zaka­ria menilai, rencana kenaikan elpiji 12 kg tidak akan berjalan mu­lus karena akan mendapatkan pe­no­lakan atau boikot pemerintah.

“Saya tidak yakin rencana Per­tamina menyesuaikan harga jual elpiji 12 kg tahun ini akan ber­jalan mulus atau tidak mendapat perlawanan dari pihak-pihak ter­­tentu,” kata Sofyano.

Menurut dia, pemerintah selalu mengintervensi Pertamina de­ngan cara yang halus agar BUMN minyak itu tidak menaikkan har­ga elpiji 12 kg dengan alasan ke­rugian Pertamina pada pen­jualan elpiji 12 kg sudah diatasi dengan pemberian keuntungan dari pen­jualan elpiji 3 kg.

“Memang elpiji 12 kg tidak di­subsidi  pe­merintah. Jadi jika ada keputusan menye­suaikan harga itu adalah murni aksi kor­porat. Apalagi se­lama ini har­ga jual elpiji 12 kg di bawah harga pa­sar dunia atau harga keeko­nomian,” jelas Sofyano.

Dikatakan, pengguna elpiji 12 kg mayoritas adalah golongan mampu. Sedangkan golongan ti­dak mampu sudah memperoleh elpiji bersubsidi yang dikemas da­lam tabung 3 kg. “Sebenarnya ini sama saja pemerintah men­sub­sidi golongan mampu,” katanya.

Namun, dia berharap, jika ada penolakan rencana kenaikan el­piji 12 kg itu tidak terkait untuk kepentingan menarik simpati mas­yarakat jelang Pemilu 2014.

Sebelumnya, Dirjen Minyak dan Gas (Migas) Ke­menterian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo menga­takan,  usulan ke­naikan itu (el­pi­ji 12 kg) baru mau dibahas.  

“Sudah (mengaju­kan), tapi akan kita bi­ca­rakan. Belum disetujui, wong belum dirapatin,” ujarnya.

Menurut Evita, usulan kenai­kan harga elpiji non subsidi ber­variasi dari mulai tabung 12 kg, 50 kg, dan elpiji curah. Jika di­setujui pun, belum tentu harganya mulai naik per 1 Januari 2013.

Pada 2012, konsumsi elpiji da­lam negeri diperkirakan men­capai 4,7 juta metrik ton. Jum­lah ini terdiri dari 3,6 juta ton elpiji ber­subsidi ukuran 3 kg dan sisa­nya merupakan gas non subsidi. Harga elpiji dipenga­ruhi oleh fluk­tuasi harga mi­nyak interna­sional.

Berdasarkan data Pertamina, saat ini Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk elpiji 12 kg di wi­layah DKI Jakarta adalah Rp 70.200. Untuk tabung 50 kg har­ganya Rp 467.750. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA