Peredaran Uang Palsu Makin Meningkat Alat Detektor Sudah Tidak Akurat, Ganti Yang Canggih

Senin, 20 Agustus 2012, 07:35 WIB
Peredaran Uang Palsu Makin Meningkat Alat Detektor Sudah Tidak Akurat, Ganti Yang Canggih
ilustrasi

rmol news logo Tingginya permintaan uang tunai saat Lebaran yang diperkirakan tembus Rp 89,4 triliun menimbulkan sejumlah kekhawatiran akan tingginya peredaran uang palsu.

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati meminta pe­me­rintah memperbaiki alat detektor uang palsu yang ada di ma­sya­rakat saat ini. “Alat detektor yang sekarang sudah nggak akurat lagi ka­rena pemalsu juga sudah pakai alat yang canggih. Kita meng­usulkan kepada Bank Indonesia di mall, bahkan di minimarket ada alat yang disediakan sehingga ma­syarakat bisa ikutan ngecek,” ujar­nya kepada Rakyat Merdeka.

Menurutnya, dengan alat de­tektor yang saat ini peredaran uang palsu semakin mudah. Apa­lagi kualitas kecanggihan per­cetakan uang palsu beberapa kali terbukti lolos sensor matic. Dia ber­harap BI juga mengikuti tin­dak kecanggihan kejahatan perbankan itu.

“Data BI boleh saja menun­jukkan ada jumlah penurunan pe­redaran uang palsu, tapi faktanya mo­dus dan kualitas kecanggihan peni­puannya justru meningkat. Ini yang harus kita waspadai ber­sama,” tegas Enny.

Persoalan lain sulitnya mere­dam gejolak peredaran uang pal­su adalah keenganan masyarakat un­tuk melapor apabila menjadi kor­ban. Karena itu, harus ada per­lindungan kepada si pelapor su­paya pendeteksian uang palsu ini cepat diatasi.

“Sekarang kan serba sulit kalau masyarakat yang dapat uang palsu itu melapor, takutnya malah dia yang ditanya macam-macam. Jadi merasa dipersulit. Akhirnya lebih baik diikhlaskan daripada lapor malah ditanya yang ma­cam-macam. Pola pikir ke­ba­nyakan seperti gitu,” katanya.

Enny juga mengimbau ma­sya­rakat perlu berhati-hati bila me­lakukan transaksi di mana pun. Uang palsu biasanya terpusat di ping­gir kota dengan transaksi lebih banyak di malam hari.

Enny juga meminta BI mem­perketat aturan tentang layanan jasa penukaran uang untuk memi­nimalisir konsumen menjadi korban uang palsu.

“Tempat penukaran itu mes­tinya yang legal, harus punya izin dari BI dulu, jangan orang biasa per individu bisa buka jasa penu­karan uang dalam jumlah besar,” tandasnya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rik­wanto memprediksi banyak uang palsu yang beredar saat Hari Ra­ya Idul Fitri. Ini lantaran inten­sitas transaksi jual beli yang di­lakukan masyarakat akan se­makin meningkat.

“Biasanya uang palsu ini mulai beredar menjelang Lebaran, tahun baru dan Natal, di mana banyak orang menghabiskan uangnya untuk keperluan yang meningkat. Ini patut diwaspadai. Oleh karena itu masyarakat diimbau selalu teliti memeriksa,” kata Rikwanto.

Rikwanto mengatakan, peca­han uang palsu yang akan beredar yakni nominal Rp 50.000 dan Rp 100.000. Para pengedar uang pal­su biasanya melancarkan mo­dusnya dengan membeli bensin di SPBU atau pun membeli ba­rang di warung, pasar dan toko-toko kelontong dengan meng­gunakan uang palsu.

Pihak Kepolisian, lanjut Rik­wanto, sudah melakukan kerja sama dengan Bank Indonesia untuk mendeteksi peredaran uang palsu tersebut.

Untuk mengantisipasi marak­nya uang palsu beredar, masyara­kat diimbau selalu memeriksa keaslian uangnya. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan melakukan tindakan 3D (dilihat, diraba dan diterawang) pada uang yang dimiliki. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA