Direktur Roundtable on SusÂtainable Palm Oil (RSPO) InÂdoÂnesia Desi Kusumadewi mengaÂtakan, perluasan lahan yang suÂdah bersertifikasi RSPO ini lanÂtaran banyak perusahaan yang suÂdah menyadari pentingnya perÂkebunan kelapa sawit ramah lingkungan.
“Trennya menunjukkan peÂningÂkatan. RSPO bahkan menÂcaÂtat lebih banyak lagi Certified SusÂtainable Palm Oil (CSPO) yang diproduksi oleh petani plasÂma,†kata Desi di Jakarta, kemarin.
Meski begitu, Desi menyadari para petani sawit kerap mengaÂlaÂmi ketertinggalan dari para peÂmain besar. Namun, isu ini terus menjadi perhatian penting bagi RSPO dalam perjuangan memÂbuÂdayakan praktik berkelanjutan di industri kelapa sawit.
Sekadar gambaran, hingga akhir tahun lalu, area produksi yang memiliki sertifikat RSPO baÂru mencapai 1.130.969 ha. SeÂmentara untuk produksi CPO menÂcapai 5.573.202 ton dan palm kerÂnel sebesar 1.296.488 ton.
Para petani plasma dari PT Inti InÂdosawit Subur yang berlokasi di Buatan, Riau, baru-baru ini bahÂkan resmi mendapatkan serÂtifikasi dari RSPO.
Dengan begitu, penambahan proÂduksi CSPO petani plasma di InÂdonesia sebesar 54.282 metrik ton. Itu artinya, produksi CSPO oleh petani plasma paling banyak berasal dari Indonesia.
Menanggapi itu, Sekretaris Jenderal RSPO Darrel Webber menyatakan, tidak diragukan lagi Indonesia sedang berada di titik tertinggi dalam perubahan menuÂju sustainability.
“Saya yakin, perkembangan yang positif ini dapat mengajak lebih banyak smallholders untuk memÂpraktikkan sustainability dan juga membuka akses bagi peÂtani untuk memasuki pasar baru minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO,†imbuhnya.
Penasihat RSPO Bungaran SaÂragih bangga dengan produkÂtifiÂtas petani plasma Indonesia. KaÂrena berdasarkan catatan tahun 2011, 38 persen dari total proÂduksi CPO di Indonesia atau sebeÂsar 8.627.883 metrik ton, merupakan hasil produksi dari smallholders.
“Prestasi dari petani plasma ini adalah bukti bahwa Indonesia berada di jalur yang benar dalam mentransformasi pasar menuju sustainability,†terangnya.
Oleh karena itu, petani plasma dan petani swadaya harus diikutÂserÂtakan dalam upaya mentransÂforÂmasi pasar minyak sawit meÂnuju sustainability guna datangÂnya dukungan dari berbagai staÂkeÂholÂder, seperti pemilik pabrik peÂngoÂlahan minyak sawit, peÂmerintah dan juga pasar minyak sawit. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: