Petani Sawit Kerap Tertinggal Oleh Pemain Besar

Persaingan di Industri CPO

Jumat, 04 Mei 2012, 08:00 WIB
Petani Sawit Kerap Tertinggal Oleh Pemain Besar
ilustrasi, petani sawit
RMOL.Hingga kuartal pertama tahun ini, area perkebunan kelapa sawit yang sudah memiliki sertifikat men­capai 1.148.134 hektar (ha). Dari lahan yang sudah berser­tifi­kasi ramah lingkungan ini, telah menghasilkan produksi minyak sa­wit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sebesar 5.704.342 ton dan palm kernel sebesar 1.34.981 ton.

Direktur Roundtable on Sus­tainable Palm Oil (RSPO) In­do­nesia Desi Kusumadewi menga­takan, perluasan lahan yang su­dah bersertifikasi RSPO ini lan­taran banyak perusahaan yang su­dah menyadari pentingnya per­kebunan kelapa sawit ramah lingkungan.

“Trennya menunjukkan pe­ning­katan. RSPO bahkan men­ca­tat lebih banyak lagi Certified Sus­tainable Palm Oil (CSPO) yang diproduksi oleh petani plas­ma,” kata Desi di Jakarta, kemarin.

Meski begitu, Desi menyadari para petani sawit kerap menga­la­mi ketertinggalan dari para pe­main besar. Namun, isu ini terus menjadi perhatian penting bagi RSPO dalam perjuangan mem­bu­dayakan praktik berkelanjutan di industri kelapa sawit.

Sekadar gambaran, hingga akhir tahun lalu, area produksi yang memiliki sertifikat RSPO ba­ru mencapai 1.130.969 ha. Se­mentara untuk produksi CPO men­capai 5.573.202 ton dan palm ker­nel sebesar 1.296.488 ton.

Para petani plasma dari PT Inti In­dosawit Subur yang berlokasi di Buatan, Riau, baru-baru ini bah­kan resmi mendapatkan ser­tifikasi dari RSPO.

Dengan begitu, penambahan pro­duksi CSPO petani plasma di In­donesia sebesar 54.282 metrik ton. Itu artinya, produksi CSPO oleh petani plasma paling banyak berasal dari Indonesia.  

Menanggapi itu, Sekretaris Jenderal RSPO Darrel Webber menyatakan, tidak diragukan lagi Indonesia sedang berada di titik tertinggi dalam perubahan menu­ju sustainability.

“Saya yakin, perkembangan yang positif ini dapat mengajak lebih banyak smallholders untuk mem­praktikkan sustainability dan juga membuka akses bagi pe­tani untuk memasuki pasar baru minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO,” imbuhnya.

Penasihat RSPO Bungaran Sa­ragih bangga dengan produk­tifi­tas petani plasma Indonesia. Ka­rena berdasarkan catatan tahun 2011, 38 persen dari total pro­duksi CPO di Indonesia atau sebe­sar 8.627.883 metrik ton, merupakan hasil produksi dari smallholders.

“Prestasi dari petani plasma ini adalah bukti bahwa Indonesia berada di jalur yang benar dalam mentransformasi pasar menuju sustainability,” terangnya.

Oleh karena itu, petani plasma dan petani swadaya harus diikut­ser­takan dalam upaya mentrans­for­masi pasar minyak sawit me­nuju sustainability guna datang­nya dukungan dari berbagai sta­ke­hol­der, seperti pemilik pabrik pe­ngo­lahan minyak sawit, pe­merintah dan juga pasar minyak sawit. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA