“Cadangan minyak IndoÂneÂsia tidak seperti dulu lagi. Saat ini cadangan minyak tinggal 10-12 tahun,†kata Kepala Humas, SeÂkuriti dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana kepada Rakyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, saat ini keterÂganÂtungan terhadap minyak sangat tinggi, sehingga produksi yang ada sulit untuk memenuhi keÂbutuhan dalam negeri. Apalagi tingkat pengurusan minyak InÂdonesia lebih besar diÂbanding negara-negara lain deÂngan sumÂber minyak yang besar.
Gde menyatakan, saat ini tidak ada penemuan cadangan-caÂdaÂngan baru yang maksimal seperti LaÂpangan Minas dan Lapangan Duri. Kedua lapangan itu pernah menghasilkan produksi tertinggi, miÂsalnya untuk lapangan Minas bisa tembus angka 1,6 juta barel.
Namun, saat ini produksi miÂnyak dalam negeri terus di bawah satu juta barel. Apalagi minyak ini sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui. “Kalau dia (miÂnyak) habis ya habis, tidak bisa dikuras lagi,†ucap Gde.
Dia juga mengatakan, produksi minyak memang tidak mudah. PaÂsalnya, kegiatan eksplorasi itu tidak semuanya bisa berhasil atau deÂngan bahasa lainnya 10 kali ngeÂbor bisa jadi cuma tiga sumur yang menghasilkan.
Selain itu, sumur yang baru makÂsimal hasilnya bisa diketahui seÂtelah jangka waktu 20-30 taÂhun. Jadi, kalau saat ini diteÂmuÂkan cadangan baru, maka haÂsilÂnya tidak bisa dinikmati dalam waktu dekat.
Karena itu, Gde mengusulkan peÂmerintah untuk lebih meÂmanÂfaatkan gas. Sebab, cadangan gas daÂlam negeri sangat tinggi diÂbanÂding minyak. “Cadangan gas maÂsih aman sampai 40-60 tahun lagi. Tapi itu juga tergantung penemuÂan caÂdangan gasnya,†jelasnya.
Terkait murahnya harga gas unÂtuk impor, Gde menjelaskan, saat itu harga memang terlalu murah. BahÂkan, dulu ketika pemerintah meÂnemukan sumur gas langsung ditutup karena harganya terlalu murah. Namun, saat ini pihaknya terus memperbaiki harga gas unÂtuk ekspor dan domestik demi meÂningkatkan permintaan.
Gde mencontohkan, pihaknya teÂlah menaikkan harga jual gas buÂmi dari ConocoPhillips ke PeÂtronas, Malaysia.
Sebelumnya, BP Migas berÂhasil menaikkan harga gas dari laÂpangan Maleo yang diÂopeÂrasikan Santos di Jawa Timur. PeruÂsahaan Gas Negara (PGN) seÂbaÂgai pemÂbeli telah setuju memÂperbaiki harga dari 2,4 dolar AS per juta miÂlÂlion briÂtish therÂmal units menjadi 5 dolar AS deÂngan pasoÂkan 110 juta kaki kubik per hari.
Alasannya, selain meningÂkatÂkan penerimaan negara, perÂbaikan harÂga gas dapat mengÂgiatÂkan keÂgiatan operasi migas, khuÂsusnya di laÂpaÂngan gas marginal yang selama ini belum dikemÂbangkan. “Investor akan lebih terÂtarik kareÂna harganya bersaing,†katanya.
Gde menegaskan, pihakÂnya teÂrus berupaya meningkatkan paÂsokan gas domestik setiap taÂhunnya. Mulai 2009, porsi doÂmestik telah lebih tinggi dari ekspor meski harganya masih di bawah harga eskpor.
Di tempat lain, Direktur OpeÂrasi Jawa-Bali PT PLN Ngurah Adnyana mengaku, pihaknya tiÂdak bisa menghindari keterÂganÂtungan terhadap bahan bakar minyak (BBM). Menurut dia, BBM diperlukan untuk menaikÂkan tegangan listrik pada pemÂbangÂkit yang menggunakan baÂhan bakar gas maupun batubara.
“Terutama, pembangkit listrik PLTU yang menggunakan batuÂbara tetap harus menggunakan minyak untuk menaikkan teÂgangan hingga 20 persen. Setelah mencapai 20 persen baru batuÂbara masuk,†katanya.
Jadi, tidak bisa seluruhnya pembangkit listrik menggunakan batubara, gas pun begitu.
Kendati begitu, Ngurah meneÂgaskan, PLN menargetkan pengÂgunaan BBM pada 2012 akan turun menjadi 5,6 persen dari reaÂlisasi 2011 yang masih 14,7 per–sen. “Syaratnya ada pasokan LNG dari FSRU sebesar 7.381 GWh atau 5,1 persen,†ujarnya.
Meskipun belum ada pasokan gas, PLN akan berusaha menuÂrunkan penggunaan BBM hanya mencapai 6,5 persen saja atau sebesar 2.974 GWh karena ada beberapa pembangkit PLTU yang sudah bisa dioperasikan.
Pengurangan konsumsi miÂnyak di Jawa tersebut akan diÂalihkan ke daerah Bali karena di sana tidak ada pembangkit listrik mengÂguÂnakan batubara atau gas, seÂmuaÂnya menggunakan minyak. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: