Namun, sayangnya realisasi dari kerja sama tersebut justru beÂlum tampak. Pahadal, ia sehaÂrusÂnya lebih fokus memikirkan meÂngatasi backlog (kekurangan) peÂrumahan di Indonesia.
Direktur Eksekutif Property Watch (IPW) Ali Tranghanda meÂnilai, sejumlah kebijakan MenÂpera Djan Faridz hingga saat ini cuma tambal sulam dan terlalu baÂnyak program pembangunan perumahan yang dicanangkan.
Alhasil, beberapa program pemÂÂÂbangunan perumahan mulai terÂbengkalai. Apalagi, katanya, Menpera saat ini justru lebih siÂbuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk beberapa program rumah murah.
â€Menpera seharusnya fokus saja. Jangan satu belum selesai suÂdah mulai menggarap program lain,†ucap Ali keÂpada RakÂyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Menurut Ali, Menpera jangan haÂnya memikirkan kebijakan yang poÂpulis saja. Jangan samÂpai ide yang bagus tak bisa teÂreaÂÂliÂsasi kaÂreÂna perencanaÂan yang kurang matang.
“Kebanyakan ide memang baÂgus, hanya saja persiapan dan peÂÂrencanaan kurang matang. Hal-hal yang bersifat politis seÂhaÂÂrusÂnya diÂkesampingkan duÂlu,†sinÂdirÂnya.
Ia menilai, semua tindakan Djan Faridz belum bisa menyenÂtuh lapisan birokrasi yang berÂkeÂpentingan di dalam programnya.
Yang harus dilakukan MenÂpera, kaÂtanya, sebaiknya fokus memÂpriÂoÂritaskan urusan biroÂkrasi yang seÂÂlama ini masih kuÂrang dijajaki. SeÂÂperti urusan biroÂkrasi dengan MenÂÂteri Keuangan, MenÂteri PekeÂrÂjaÂan Umum, perÂbanÂkan, peÂngemÂbang dan pihak perguÂruan tingÂgi.
“Harusnya ini yang diutaÂmaÂkan agar penyediaan lahan, izin memÂbangun rumah bisa mudah dilakuÂkan dan program rumah murah bisa diÂrealisasikan dengan cepat,†saran Ali.
Ia khawatir, program rumah muÂrah ini hanya pepesan kosong. ApaÂlagi dikabarkan lahan untuk memÂbangun rumah murah belum ada.
Ketua DPP Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso menyaÂtaÂkan, program rumah murah seÂharÂga Rp 45 juta per unit sulit direaÂlisasikan dan butuh waktu lama.
“Kami tidak masuk dalam peÂngembangan rumah murah terseÂbut karena itu sulit dilakukan dan butuh waktu lama,†kata Setyo usai acara diskusi tenÂtang ‘Aturan Uang Muka KPR 30 PerÂsen Tipe 70’ di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, untuk meÂwuÂjudÂkan rumah murah butuh keseriÂusÂan pemerintah. Khususnya daÂlam menangani masalah lahan di daeÂrah serta birokrasi lainnya dengan para stakholder.
“Bekas Menpera Suharso MoÂnoarfa pernah bilang bahwa tidak mudah merealisasikan rumah muÂrah kalau infrastrukturnya tidak kuat. Jadi sulit dipastikan kaÂpan bisa direalisasikan,†cetusnya.
Ia menilai, kinerja MenÂpera sejauh ini masih tergoÂlong biasa saja. Buktinya, baÂnyak program peÂmeÂrintah yang terkesan tidak menÂcapai target.
Hal senada dikatakan anggota Komisi V DPR Riswan Tony. Ia meÂnilai, tindakan yang dilakukan Menpera selama ini justru lebih menonjolkan pada pencitraan.
Menanggapi kritikan tersebut, Menpera Djan Faridz merasa maÂsih perlu lebih bekerja keras dan banyak belajar dari para peÂmangÂku kepentingan bidang peÂruÂmaÂhan lainnya.
â€Saya memang pernah meÂnyaÂtakan kesiapan melanjutkan progÂram menteri sebelumnya. NaÂmun, saya masih harus lebih beÂkerja keÂras dan belajar lagi tentang perÂumahan rakyat dari para peÂmangÂku kepenÂtingan biÂdang peruÂmahan lainnya,†ujar Djan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: