Menteri Energi Sumber Daya MiÂneral (ESDM) Jero Wacik meÂngatakan, ada empat aturan pengÂhematan BBM bersubsidi dan listrik. Keempat aturan yang diÂsiapkan pertama, kendaraan peÂmerintah tidak boleh mengÂguÂnakan premium. Kedua, meÂlakukan penghematan listrik di seÂluruh kantor dan perumahan. KeÂtiga, konversi dari BBM ke baÂhan bakar gas (BBG) dan keÂempat, pembatasan BBM berÂsubsidi untuk kendaraan dengan kapasitas (CC) tertentu.
“Untuk konversi BBM ke gas, peÂmerintah telah menyusun roadÂmap pembangunan SPBG bagi angkutan umum perkoÂtaÂan,†katanya di Jakarta, kemarin.
Tahun depan, rencananya SPBG LGV akan dibangun di BaÂli dan BaÂlikpapan. Sedangkan SPBG CNG akan dibangun di MeÂdan. SeÂmentara pada 2014, meÂnurut renÂcana SPBG CNG akan dibangun di Cilegon dan Sengkang.
Wacik mengemukakan, tahun ini pemerintah akan memÂbangun SPBG di SuÂrabaya, Kabupaten Gresik, SiÂdoarjo, DKI Jakarta, Kota BeÂkasi, Kota Depok, Kota TaÂngerang SeÂlatan, Kota Bogor, KaÂbupaten BoÂgor, Kabupaten Sidoarjo, KaÂbupaten Gresik dan Kota Surabaya.
Untuk itu, agar rencana ini berjalan lanÂcar, Wacik meminta pemeÂrinÂtah daerah mendukung rencana pemÂbangunan SPBG dengan memÂperÂcepat Izin Mendirikan BaÂngunan (IMB).
“Saya mendapat laporan, terÂutama di DKI Jakarta, orang kalau mau membuat SPBG, izinÂnya memerlukan 17 tanda taÂngan. Udah keburu berhenti saya jadi Menteri ESDM, belum juga SPBG-nya berdiri,†tegasnya.
Wacik menegaskan, diverÂsifiÂkasi BBM ke bahan bakar gas haÂrus dilakukan, bukan lagi sekadar renÂcana. Karena itu, dia meminta seÂmua pihak mendukung proÂgram ini, antara lain dengan memÂpermudah perizinan.
Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gde PraÂdnyana mengaku, sudah menyiapÂkan pasokan gas untuk pelakÂsanaan konversi BBM ke gas. “Tinggal pelakÂsaÂnaannya saja. Kemarin kita sudah meÂlakukan tanda tangan soal keÂsiapan pasokan gas,â€cetusnya.
Sedangkan, anggota Komisi VII DPR Iqbal Alan mengatakan, pemeÂrintah harus segera melaÂkukan konÂversi BBM ke gas untuk menÂjaga kuota 40 juta kiloliter yang sudah ditetapkan pemerintah.
Dikatakan dia, jika konversi itu tidak segera dilakukan, kuota BBM akan terlampaui meski konÂversi tidak mudah dilakukan selama disparitas harga BBM dan gas masih ada. “Pengguna kenÂdaraan akan lebih senang meÂmilih BBM dibanding gas, karena harganya yang murah dan tidak ribet,†tukas dia.
Iqbal mengatakan, salah satu cara untuk menarik masyarakat menggunakan gas adalah dengan melebarkan disparitas harga, misalnya dengan menaikkan harga premium. Namun, karena hasil keputusan DPR pemerintah tidak bisa menaikkan harga, maka salah satu solusinya adalah dengan mensubsidi harga gas.
“Almarhum Wakil Menteri (Widjajono Partowidagdo) perÂnah mewacanakan itu, dengan tuÂjuan agar masyarakat memÂbiaÂsakan menggunakan gas,†ujarnya.
Dia mengakui, masalah konÂversi ke gas itu tidak hanya harga, tapi juga infrastruktur mulai dari pom bensin gas hingga ke masalah konverter kit. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: