RMOL.Pemerintah meminta kepada masyarakat dari kalangan mampu malu membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
“Malu sedikitlah, orang yang sudah mampu kalau masih beli BBM bersubsidi, saya dulu waktu jadi pengusaha malu beli BBM bersubsidi,†cetus Menteri ESDM Jero Wacik di Jakarta, kemarin.
Dia berpendapat, harusnya harÂga BBM subsidi naik di tengah tingginya harga minyak dunia, dan juga karena selama ini 77 persen jatah BBM subsidi malah dinikmati kalangan mampu. Namun, pemerintah tidak bisa meyaÂkinkan DPR. “Saya kalah yakinkan DPR,†ucapnya.
Menurut Wacik, tingginya harga minyak dunia dan konÂsumsi BBM subsidi membuat angÂgaran subsidi memÂbengkak. Pemerintah juga sudah meÂlakukan survei yang hasilnya meÂnyebutkan 51,35 persen peÂmilik mobil pribadi lebih memilih harga BBM dinaikkan jadi Rp 6.000 per liter. “Sebanyak 51,3 persen pemilik kendaraan pelat hitam maunya naik saja, tapi seÂmuanya gagal. Lupakanlah dulu naikkan harga BBM, yang terÂpenting saat ini adalah bagaimana kita berÂhemat,†ujarnya.
Wacik pun meminta kepada peÂngusaha swasta ikut mendukung proÂgram penghematan energi. “KaÂlau dirutnya yang minta heÂmat, keluarkan surat edaran pasti karyawannya mau, tapi kalau Menteri ESDM yang minta nanti dipolitisir, masa menteri perintah-perintah swasta,†ungkapnya.
Sementara Menteri Perencanaan PemÂbaÂngunan Nasional/Kepala BapÂpenas Armida Alisjahbana meÂngaÂÂtakan, masalah pengeÂlolaan energi akan jadi fokus perÂhatian pemerintah karena berÂdampak pada anggaran beÂlanja modal untuk pembiayaan infrastruktur.
“Kalau subsidi energi begitu saja naik, kalau tepat sasaran tidak meÂngapa. Tapi ini kebaÂnyakan tidak tepat sasaran, keÂnapa kita harus mensubsidi orang yang seharusnya tidak disubsidi,†ujarnya.
Kondisi itu, diakui, meÂnyulitkan pemerintah untuk menambah alokasi belanja modal pada 2013 yang hanya bertambah Rp 32 triliun dari alokasi dalam APBN (Anggaran Pendapatan Belanja)- Perubahan 2012 sebesar Rp 168 triliun. Bandingkan angka tersebut dengan alokasi subsidi energi yang selalu meningkat setiap tahun. Hingga akhir tahun biaya subsidi ditetapkan Rp 225 triliun.
“Bayangkan untuk (anggaran belanja modal) infrastruktur dari 2012 ke 2013 naik Rp 32 triliun, itu dengan susah payah. PerÂmaÂsalahan energi harus mulai diselesaikan tahun ini, sehingga beban subsidinya bisa lebih rasional,†kata Armida. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: