“Impor minyak ke Indonesia seharusnya langsung pada proÂdusen, jika ini dilakukan peÂmerintah dapat menghemat Rp 70 triliun, yang sebelumnya mengÂhabiskan kurang lebih Rp 350 triliun,†ungkap pengamat migas Kurtubi di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, pemerintah khususnya BP Migas (Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas), tidak dapat mengÂeksplorasi hasil minyak. Selama ini pemerintah hanya mengÂungkapkan cadangan miÂnyak tersisa 3,9 juta barel. PaÂdahal, banyak ahli dari luar negeri yang mengklaim negeri ini memiliki lebih dari 50 juta barel minyak mentah.
Menurut Kurtubi, memang pengelolaan migas butuh dana besar untuk dapat mengÂeksplor titik-titik baru untuk dapatkan minyak. Namun, ada hal terÂpenting dari rencana peÂnguÂrangan subsidi ini.
“Realisasikan konversi BBM ke BBG, jangan konversi dari minyak ke minyak, premium ke pertamax kan sama-sama miÂnyak,†tegasnya.
Karena itu, dia menilai dasar dari rentetan kasus ini adalah Undang-Undang Migas. Di mana pada UU Migas No 22 tahun 2001, harus segera di hapus. “Itu biang kerok dari hancurnya pengelolaan migas, dari pada ngurusin APBN akal-akalan ini,†tegas dia.
Di tempat lain, pemerintah mengaku produksi batubara di kuartal I-2012 sesuai target sebesar 90 juta ton. Namun, dari angka ini 75 persen diekspor.
“Memang sesuai target, (haÂnya) ekspor 75 persen,†ujar Direktur Pembinaan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Eddy Prasodjo di Jakarta, kemarin.
Menurut Eddy, sampai 2014, hampir 70 persen produksi baÂtubara Indonesia diekspor. PaÂdahal, cadangan batubara InÂdonesia tidak banyak, hanya sekitar tiga persen dari cadangan dunia, sehingga ekspor batubara harus dikurangi.
“Kita harus sadar jumlah caÂdangan kita terbatas, sumber daya mineral pun nggak banyak-baÂnyak amat. Kalau dibanding cadangan dunia kecil sekali itu, karena itu kita harus mengÂguÂnakannya seoptimal mungkin. Nah, kita harus mengolah di dalam negeri,†jelasnya.
Menurut Eddy, pemerintah sedang bekerja sama dengan instansi di daerah untuk melihat produksi batubara ke depan agar bisÂa diseimbangkan antara proÂduksi yang digunakan di dalam negeri dengan yang diekspor. “Ya kita mau seimbang saja, kalau kita bilang ditahan (produksi) itu harus ada kerja sama, nggak bisa saya sendiri saja, nggak bisa Pemda. Semua pihak harus terÂlibat, baik Pemda maupun insÂtansi lain dan peÂrusahaannya senÂdiri. Kita harus sama-sama sadar kalau cadangan kita terbatas,†jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: