RMOL. Anggaran ujian nasional (UN) 2012 senilai Rp 600 miliar dinilai cukup besar sehingga pungutan liar (pungli) seharusnya bisa dihilangkan. Namun, di lapangan ternyata masih ditemukan beberapa pungli yang mengÂatasÂnaÂmaÂkan sumbangan di beberapa sekolah.
Ada banyak laporan dari masyaÂrakat yang mengeluhkan pungutÂan tambahan biaya ujian yang haÂrus dibayarkan siswa ke seÂkoÂlah. “Masyarakat mengeluhkan puÂngutÂan ini,†kata Anggota KoÂmisi X DPR Ahmad Zainuddin kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Dalam rapat kerja antara DPR dan Kementerian Pendidikan dan KeÂbudayaan (Kemendikbud), ZaiÂÂnudÂdin mengemÂuÂkÂaÂkan angÂgaran UN siswa SD hingga SMA/sederaÂjat pada taÂhun ini ditetapÂkan Rp 50 ribu lebih tiap siswa.
Menurut dia, jika ada keÂkuÂrangÂÂÂÂan bisa diÂtutupi dari dana BanÂtuan OpeÂraÂsioÂnal Sekolah (BOS). Dalam BOS, salah satu komponen biaÂyaÂnya dialokasikan untuk biaya ujian siswa. DiÂtamÂbah lagi, peÂmeÂÂrintah daerah (PemÂda) juga sudah mengÂaloÂkaÂsiÂkan dana APBD unÂtuk peÂlakÂsaÂnaÂan UN.
Apalagi, anggaran UN tahun ini jumlahnya lebih beÂsar Rp 50 miliar dibanding angÂgaran UN tahun lalu. Untuk itu, pihaknya mendesak Pemda segera menÂcairkan dana BOS ke rekening sekolah.
Menurutnya, tidak ada alasan bagi Pemda untuk menunda penÂcairÂan dana BOS tersebut ke reÂkeÂning sekolah mengingat penÂtingÂnya dana tersebut untuk meÂmenuhi biaÂya operasional setiap sekolah seperti UN dan ulangan, serta pembayaran honorarium bulanan guru.
Politisi PKS ini meminta KeÂmenÂdikbud menertibkan pungutÂan di sekolah. “PeÂmerintah harus memÂberi sankÂsi yang tegas jika terÂbukti masih ada sekolah meÂmungut biaya UN di luar ketenÂtuan yang ada,†tegasnya.
Dia pun berharap, masalah puÂngÂutan tambahan tidak memÂpeÂngaÂruhi hasil ujian siswa. Dia meÂnyayangkan adanya indikasi beÂberapa siswa yang diancam tidak dapat mengiÂkuti ujian bila tidak mampu memÂbayar biaya UN tambahan yang dipungut sekolah.
Menanggapi hal ini, pengamat pendidikan DharÂmaÂningtyas menekankan, sekolah tidak boleh meminta pungutan dari peÂserta ujian. Menurut dia, sekolah pasti sudah punya dana sendiri untuk pelaksanaan UN.
Apalagi untuk UN, pemerintah juga sudah punya anggaran senÂdiri. “Tidak benar kalau siswa haÂrus mengeluarkan biaya tamÂbahÂan,†ucapnya kepada Rakyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin.
Kalau pun ada sekolah yang meÂminta pungutan kepada sisÂwaÂnya dalam pelaksanaan UN, hal tersebut bisa saja kalau sekolah sulit mencari dana talangan selagi dana BOS belum disalurkan.
Mungkin saja kalau sekolah menÂcari jalan cepat dalam memÂperÂoleh dana tambahan dengan meÂminta pungutan ke siswa. “UnÂtuk UN senÂdiri kan sudah terjadwal. Pasti, angÂgaran untuk ini pun sudah ada. SeÂharusnya memang tidak ada alasan apaÂpun,†jelas Dharmaningtyas.
Menanggapi hal tersebut, MenÂteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh meÂngatakan, anggaran Rp 600 miliar untuk UN sendiri meruÂpaÂkan dana yang sudah optimal dan minim.
Untuk itu, jika ada dana lain yaÂng dipungut oleh sekolah maÂsih dibolehkan. Dengan catatan, ada kesepakatan antara sekolah dan orang tua peserta UN.
“Kita sudah menghitung, angÂka Rp 600 miliar itu memang besar. Tapi, jika kita kalikan atau bagikan dengan jumlah peserta yang begitu besar, saya kira angÂka tersebut sudah sangat minim, bahkan pas-pasan,†ungkap Nuh saat mengÂgelar konferensi pers jelang UN di gedung KemendikÂbud Jakarta, Kamis, (12/4). [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: