Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali TrangÂhanda pesimis proyek tersebut terus berjalan. Ia menilai, proyek rusunawa maupun rusunami (rumah susun milik) ini boleh dibilang sebagai proyek gagal.
Menurut dia, progress proyek itu tidak begitu terdengar lagi. Bahkan, program 1.000 tower rusunami yang menggandeng pengembang swasta pun mengÂhadapi banyak kendala, terutama kesiapan dari pemerintah daerah setempat.
Ketidaksesuaian kebijakan peÂmerintah pusat dan pemerintah daerah membuat pengembang menjadi bingung. Alhasil, proyek rusunami yang tadinya dipeÂrÂuntukkan bagi masyarakat berÂpenghasilan rendah (MBR) deÂngan harga Rp 144 juta pun memÂbidik pangsa pasar menengah.
Apalagi, menurut Ali, program hunian vertikal sewa seharusnya segera dilaksanakan, mengingat kebutuhan tersebut lebih tepat diÂbandingkan rusunami. PemeÂrinÂtah seharusnya lebih memÂfoÂkusÂkan diri untuk penyediaan huÂnian vertikal sewa. Pasalnya, daÂya beli masyarakat semakin berÂkurang membeli rumah hunian.
Yang menjadi masalah, kaÂtaÂnya, dana pemerintah saat ini terÂbatas membangun hunian verÂtikal tersebut. Jadi, perlu aturan yang mengharuskan pengemÂbang memÂberi subsidi dalam pembaÂngunan rusun untuk MBR tanpa harus merugi.
“Kontribusi pengembang aparÂÂtemen menengah atas untuk memÂÂbangun rusunami subsidi harus digalakan untuk menghinÂdari keÂsenjangan sosial maÂsyaÂrakat perÂkotaan,†tambahnya.
Terkait dampak kenaikan harÂga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai diberlakukan April depan, Ali mengatakan, biÂaya pemÂbangunan rusunawa baÂkal meÂningkat. Pasalnya, beÂbeÂrapa baÂhan baku bangunan ikut meÂrangÂkak naik.
“Sebenarnya, kenaikan ini juÂga tidak begitu masalah. Yang paling penting adalah bagaimana proyek rusunawa ini sampai ke sasaÂranÂnya dulu,†katanya.
Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana Adia meÂnolak usulan keÂnaikan harga rumah bersubsidi yang diusulkan Kemenpera. MeÂnurutnya, usulan kenaikan harga rumah bersubsidi baik tapak mauÂÂpun rusun yang mencapai 45 perÂsen dinilai tidak relevan meÂngÂingat sampai saat ini belum ada keputusan kenaikan harga BBM.
Menurut dia, terlalu dini untuk mengusulkan kenaikan harga rumah bersubsidi karena sampai saat ini kenaikan harga BBM juga belum disetujui dan masih dibaÂhas di DPR.Tapi pertanyaannya, meÂngapa pemerintah sudah meÂmaÂtok kenaikan harga rumah?
“Kami jelas menolak usulan kenaikan ini mengingat sampai saat ini belum ada keputusan meÂÂngenai kenaikan harga BBM,†kata Yudi kepada RakÂyat MerÂdeÂka, kemarin.
Seperti diberitakan sebeÂlumÂnya, Kemenpera telah mengaÂjuÂkan usulan kenaikan harga rumah bersubsidi sebesar 45 persen keÂpada Kementerian Keuangan. PeÂmerintah beralasan, kenaikan harÂga rumah itumengacu pada tingkat inflasi dari tahun 2007-2012 dan estimasi kenaikan harga BBM.
Kemenpera mematok harga makÂsimum rumah sejahtera suÂsun bersubsidi diusulkan naik dari Rp 144 juta menjadi Rp 190 juta. Sedangkan harga rusun seÂjahÂtera menjadi Rp 209 juta per unit.
Anggota Badan Anggaran DPR ini mengaku khawatir kenaikan tersebut justru akan meÂningÂkatÂkan kekurangan (backÂlog) rumah dan tidak tercapainya target peÂmeÂrintah dalam pemenuhan hak masÂyarakat berpenghasilan renÂdah (MBR) dalam memÂperÂoleh rumah yang layak sebaÂgaiÂmana diamaÂnatkan dalam UUD 1945.
Dengan kenaikan harga rumah subÂsidi, katanya, otomatis harga ruÂsun subsidi sama dengan harga rusun komersial dan kian tidak terÂjangkau MBR. “Backlog akan peruÂmaÂhan makin besar karena MBR tidak mampu membeli rumah deÂngan harga seÂtinggi itu,†kata Yudi.
Nada optimis justru diungÂkapÂkan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz. Ia meÂngaÂku pembangunan 1.000 tower rusunami akan selesai tepat wakÂtu. “Dengan kenaikan harga BBM, kebutuhan rumah yang dekat dengan tempat kerja, semakin besar satu dan lain hal untuk menghemat biaya transport. JusÂtru ini akan menggairahkan pemÂbangunan rusunami di kota JaÂkarta,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: