Kendala lainnya, sebagian beÂsar lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun kejuruan memilih langsung bekerja diÂbanding mengeyam bangku perÂguruan tinggi. Mulai dari akses informasi, finansial, intelektual hingga mental, turut memÂpeÂngaruhi APK.
Ada beberapa program yang perlu dilakukan untuk menjawab keterbatasan ini, mulai dari progÂÂram beasiswa, orangtua asuh, bimbingan belajar, try out hingÂga konsultasi/konseling.
Sementara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang menjadi satu-satunya alternatif bagi calon maÂhasiswa menempuh penÂdiÂdikan tinggi yang berkualitas dengan harga terjangkau masih mengaÂlaÂÂmi kendala. Kuota yang diberikan PTN belum memenuhi.
Rektor Universitas Islam NeÂgeri (UIN) Jakarta Komarudin HidaÂyat mengatakan, faktor yang seÂhaÂrusnya menjadi perÂhatian PTN selama ini adalah ketika luÂlusan sarjana terjun di dunia kerÂja, tak mudah untuk beradaptasi.
“Daya saing luÂlusan sarjana di dunia kerja masih kurang. Setiap sarjana yang lulus seÂlama ini tidak dididik sebagai pribadi yang siap memiliki daya serap di laÂpangan, tetapi lebih kepada seÂorang pemikir,†kritik Komarudin.
Menurut dia, kondisi tersebut diperparah lagi sumber daya maÂnusia PTN dari segi tenaga peÂngajar maupun dosen. Menurut dia, jumlah dosen yang benar-beÂnar berkompeten masih kurang.
Untuk itu, Komarudin berÂhaÂrap, setiap PTN perlu menjalin kerja sama dengan berbagai peÂrusahaan. Tak hanya itu, menurut dia, usaha peningkatan APK ini juga diharapkan akan sesuai deÂngan jaÂminan mutu dari sebuah perÂguÂruan tinggi dan keaktifan dari seÂluruh perguruan tinggi di Indonesia. “Sebaiknya yang haÂrus didorong jangan hanya PTN saja, tetapi PTS juga punya anÂdil,†saran Komarudin. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: